Home Berita Posisi Inalum Sebagai Holding Tak Tepat, Faisal Kecam Logika Pemerintah

Posisi Inalum Sebagai Holding Tak Tepat, Faisal Kecam Logika Pemerintah

0
SHARE

Rakyat Jakarta – Ekonom senior dari Universitas Indonesia, Faisal Basri menegaskan rencana pemerintah dalam pembentukkan induk usaha (holding company) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor pertambangan keliru. Ini lantaran PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dinilai tidak cocok sinergi ke dalam holding BUMN pertambangan khususnya jadi induk.

Menurutnya, Inalum akan lebih tepat melakukan sinergi jika dilakukan dengan perusahaan pemakai aluminium sendiri seperti di industri otomotif dan pesawat terbang.

“Nah ini (holding BUMN tambang) sinerginya di mana? Enggak ada, idealnya kalau mau cepat, Inalum sinergi dengan pengguna aluminium seperti otomotif dan pesawat terbang saja,” ujar dia, di Jakarta, ditulis Selasa (28/11).

Dia menjelaskan, Inalum juga sebenarnya bukan merupakan perusahaan penambangan, melainkan pengolahan di sektor hilir. “Khusus tambang, Inalum bukan tambang tapi industri di hilir. Inalum produksi aluminium di hilir industri, bukan tambang aluminiumnya,” dia menegaskan.

Selain itu, holding BUMN di sektor manapun harus dicermati terlebih dulu. Sehingga bisa sesuai dengan konsep dan tujuannya untuk membentuk super holding meniru Temasek di Singapura itu.

Memang, kata dia, rencana pemerintah membentuk holding tidak terlepas dari upaya membentuk superholding untuk dapat bersaing dengan Temasek Holdings, Singapura dan Khazanah Nasional Berhad, Malaysia.

“Kalau superholding kita kan sebenarnya sudah ada yang namanya Kementerian BUMN. Kalau sekarang holding hanya untuk utang saja,” kritik Faisal.

Ia mengatakan, sejauh ini rencana holding pertambangan juga memicu kecurigaan di masyarakat bahwa nantinya perusahaan BUMN yang menjadi anak usah Inalum tidak lagi sebagai perusahaan BUMN.

“Masyarakat khawatir perusahaan-perusahaan itu tidak bisa diawasi lagi oleh DPR dan Kementerian Keuangan, karena dia anak usaha lewat inbreng saham,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menambahkan, holding semen diniliai lebih masuk akal, karena produk yang dihasilkan bersifat homogen. “Yang keliru juga sebenarnya ada pada holding PTPN (PT Perkebunan Nusantara) yang mengalami kerugian terus. Jadi, tidak perlu kemana-mana untuk membesarkan perusahaan tambang, ikuti basic-nya saja,” saran dia.

[AKTUAL]