Home Berita Kemelut Intoleransi Berkedok Toleransi

Kemelut Intoleransi Berkedok Toleransi

0
SHARE

Rakyat Jakarta – DI TENGAH kemelut intoleransi berkedok toleransi , mendadak melalui media Facebook, Dahnil Anzar Simanjuntak, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah/Pangti Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam), menyebar pernyataan dahsyat yang saya copas sebagai berikut :

Stop Provokasi Demo Terhadap Kolese Kanisius !

Sore ini, Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah kedatangan tetangga dekat kami para Romo dan alumni Kolese Kanisius, yang kebetulan Gedung Kolese Kanisius dan Gedung Dakwah Muhammadiyah menempel bersebelahan.

Cemas

Romo Heru, Kepala Kolese Kanisius dan romo lainnya serta para Alumni, menyampaikan kecemasan mereka terkait dengan isu, ajakan serta provokasi untuk melakukan demo terhadap Kolese Kanisius, yang tersebar di sosial media. Romo Heru menyampaikan, pada dasarnya mereka kecewa dan menyayangkan sikap Ananda Sukarlan terkait aksi WO ketika Gubernur DKI Anies Baswedan menyampaikan pidatonya, pun demikian dengan sikap resmi Alumni Kolese Kanisius yang menyesalkan tindakan yang dilakukan Ananda tersebut, ditambah yang bersangkutan membuat rilis terkait aksi WO, tersebut. Jadi, tidak ada kaitannya dengan Civitas Akademika Kolese Kanisius.

Terkait dengan hal tersebut, Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah sudah berusaha mencari dan menelusuri siapa yang menyebarkan provokasi dan ajakan tersebut. Oleh sebab itu kami ingin menyampaikan, bahwa siapa pun yang melakukan provokasi mengajak melakukan demonstrasi terhadap lembaga pendidikan seperti Kolese Kanisius tentu tidak di benarkan, Muhammadiyah memiliki ribuan lembaga pendidikan diseluruh Indonesia, tentu tidak berkenan bila diancam dengan demonstrasi, apalagi isu yang dibawa tidak terkait dengan institusi tersebut. Pun, demikian kami tidak ingin hal tersebut terjadi pada tetangga terdekat kami yakni Kolese Kanisius. Jadi, kami dengan rendah hati menyampaikan kepada siapa saja yang berusaha untuk memobilisir demonstrasi ke Kanisius, itu sama dengan demonstrasi juga dirumah Kami, Gedung Dakwah Muhammadiyah yang menempel dengan Kolese Kanisius.

Imbauan

Maka kami menghimbau untuk tidak melakukan demonstrasi dan ancaman mobilisasi massa tersebut, karena bisa menyulut stigma intoleran yang massif, mari rawat nalar yang sehat bukan emosi yang kuat, selama ini kami berusaha keras merawat Toleransi yang otentik dengan apik, bukan toleransi yang penuh keberpura-puraan.

Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) Pemuda Muhammadiyah akan berjaga dan memastikan agar tidak ada penyerangan dan melakukan demonstrasi terhadap kolese kanisius. Dan, kami berharap memang tidak akan pernah ada. Sikap Ananda Sukarlan adalah sikap dia pribadi, silahkan anda atau siapa pun yang ingin protes menyampaikan langsung kepada yang bersangkutan, namun bila terkait dengan upaya ancaman dan demonstrasi terhadap Kolese Kanisius tentu juga menjadi urusan Kokam Pemuda Muhammadiyah yang selama ini terus hidup bertetangga dengan baik, damai dan berbagi dengan Saudara-Saudara kami di Kolese Kanisius. Terimakasih!”.

Terima Kasih

Setelah menyimak pernyataan dahsyat tersebut , tiba giliran saya melalui naskah yang dimuat Kantor Berita Politik RMOL ini menyampaikan terima kasih kepada Dahnil Anzar Simanjuntak yang telah lama saya curigai adalah seorang cendekiawan merangkap budayawan muda yang arif bijaksana.

Mas Dahnil benar-benar memahami makna toleransi yang sebenarnya serta berupaya menjabarkannya bukan sekedar sebagai slogan politik namun benar-benar sebagai kenyataan sikap dan perilaku.

Saya memang curiga bahwa Mas Dhanil akan menjadi pemimpin perjalanan bangsa, negara dan rakyat Indonesia menuju cita-cita adhiluhur masyarakat adil dan makmur dalam suasana gemar ripah loh jinawi tata tenteram kerta raharja. Merdeka!

Penulis adalah pembelajar makna apa yang disebut sebagai toleransi
[oleh: jaya suprana]

[RMOL]