Home Berita Yang Anti Pancasila Kelompok Separatis Katolik, Mengapa HTI Yang Dibubarkan?

Yang Anti Pancasila Kelompok Separatis Katolik, Mengapa HTI Yang Dibubarkan?

0
SHARE

Rakyat Jakarta – Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (menkopolhukam) Wiranto dengan terpaksa mengumumkan pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sehari sebelum hakim menjebloskan penista agama Basuki Tjahja Purnama (Ahok) ke penjara.

Menurut Ketua Progres 98 Faizal Assegaf, kedua peristiwa tersebut saling berkaitan.

“Itu menegaskan bahwa Ahok boleh dipenjarakan tapi HTI juga harus dibubarkan dengan tudingan anti Pancasila,”tegas Faizal kepada redaksi, Rabu (10/5).

Bukan hanya HTI menurut Faizal, ancaman serupa juga diarahkan pada Front Pembela Islam (FPI) yang dinilai sangat giat melawan kejahatan konglomerat aseng dan agresif menuntut Ahok dipenjarakan.

“Celakanya instruksi pembubaran HTI datang dari Presiden Jokowi atas masukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan hasutan opini media pro Istana,”sindir Faizal.

Hal itu kata Faizal jelas membuat Wiranto tidak berdaya dan hanya bisa mengirimkan pesan politik yang sangat elok dan strategis. Tujuannya jelas yakni agar umat Islam melakukan perlawanan. Reaksi itulah menurut Faizal yang sesungguhnya dinantikan pemerintah.

“Sebab Wiranto sangat memahami, bahwa pembubaran HTI secara sepihak oleh pemerintah adalah tindakan ilegal. Justru sebaliknya HTI makin menuai simpatik dan dukungan luas dari umat Islam,”beber Faizal.

Dengan begitu kata Faizal, tanpa keputusan pengadilan maka instruksi Presiden membubarkan HTI hanyalah bualan dan bentuk ekspresi kebencian membabi-buta kepada Islam.

“Jangan lupa, fakta menunjukan dengan sangat jelas bahwa misionaris Katolik merupakan kelompok anti Pancasila dan terbukti terlibat gerakan separatis,”ungkap Faizal.

Setelah rezim Soeharto tumbang, Uskup Belo dan gereja Katolik terbukti terlibat melakukan gerakan separatis melepas provinsi Timor Timur (kini Timor Leste) dari wilayah NKRI. Kejahatan separatis tersebut kata Faizal bahkan telah ditularkan melalui jaringan dan aktivitas gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

“Namun mengapa perilaku busuk misionaris Katolik dibiarkan dan tidak disebut: Misionaris Katolik anti Pancasila dan jaringan ormas maupun gereja yang terlibat dibubarkan?,”demikian Faizal. [RJ / rmol]