Home Berita Timbulkan Konflik Sosial, Tokoh Aceh Desak Pengadilan Segera Putuskan Nasib Ahok

Timbulkan Konflik Sosial, Tokoh Aceh Desak Pengadilan Segera Putuskan Nasib Ahok

0
SHARE

Dinilai terlalu berlarut-larut dalam proses penegakan hukum melalui pengadilan tingkat pertama di kasus penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok menimbulkan konflik sosial yang berkepanjangan di tengah masyarakat Ibu Kota.

Tokoh Aceh di Jakarta Oskar Pilot mengatakan seharusnya dengan bukti-bukti dan saksi yang dihadirkan dalam persidangan sudah membuat keyakinan majelis hakim membuat putusan.

“Ya kalau kita lihat fakta persidangan, Ahok nggak bisa lari dari tuntutan hukum. Sayangnya, proses hukum lambat sekali, seharusnya penegakan hukum paham kasus Ahok sudah terlalu melebar kemana-mana,” kata Oskar dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat (17/3).

“Bahkan sampai menimbulkan konflik sesama warga khususnya antara muslim pro Ahok dengan yang kontra,” tambahnya.

Oskar berpendapat bukan tanpa alasan, sebab dalam kunjungan Ahok dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di warga Aceh di asrama fund oentuk bantoen atjeh (FOBA) Jakarta Selatan yang ditenggarai politikus asal tanah rencong menciptakan kekisruhan baru di tengah komunitas Aceh sendiri.
Ironisnya, sambung Oskar, para mahasiswa yang notabenennya pengurus FOBA yang tidak tahu menahu dengan kedatangan Ahok justru mendapatkan ancaman dan intimidasi dari anggota kominitas lainnya, yang mayoritas masyarakat Aceh tersinggung dengan sikap terdakwa penista agama.

“Ya, anak-anak mahasiswa ini dituduh mendukung penista agama, ya banyak yang marah, yang belum tau dudukperkara siapa sebenarnya yang bawa Ahok ke FOBA, dan langsung saja main ancam,” sebut dia.

“Padahal oknum politikus asal Aceh yang membawa Ahok ke FOBA dan mereka (mahasiswa,red) tidak tau apa-apa. Dan saat ini, sejumlah stacholder komunitas warja Jakarta masih melakukan advokasi terhadap kasus mengungkap siapa tokoh yang memelintir peringatan maulid untuk kepentingan politik Ahok,”tandasnya.