Home Berita Sudah Sedemikian Ngawurkah Penegakan Hukum Sejak Dipimpin Presiden Jokowi

Sudah Sedemikian Ngawurkah Penegakan Hukum Sejak Dipimpin Presiden Jokowi

0
SHARE

Rakyat Jakarta – Penyelidikan atas kasus percakapan dan chatting Firza Husein yang dikait-kaitkan terhadap Ketua FPI Habib Rizieq Syihab (HRS), dipandang sangat tidak umum jika dilihat dari kacamata hukum.

Penggiat politik dan hukum dari The Indonesian Reform, Martimus Amin menjabarkan sejumlah alasan. Pertama, konten audio percakapan dan chatting diupload dan tersebar melalu siitus baladacintarizieq.

“Sudah bisa ditebak dari nama situs saja memang sengaja dibuat untuk maksud  tertentu. Skenario mendiskreditkan dan mengkriminalisasikan HRS. Infonya pemilik situs adalah warga keturunan yang rasis dan sangat anti pribumi,” jelas Amin.

Kedua, lanjut dia, menyangkut asal konten dan diupload oleh situs tersebut.

 

“Pertanyaan menarik dapat kita korek dari keterangan Firza sewaktu pemeriksaan dirinya terkait kasus dugaan makar, hp (handphone-nya) disita oleh aparat kepolisian. Setelah dikembalikan barulah konten tersebar via situs baladacintarizieq,” ujarnya.

 
Kemudian apa hubungan dengan HRS?  Ia menilai aneh hanya sekedar percakapan dan audio tidak jelas bahkan diduga hasil rekayasa, serta disebarkan orang lain, tapi justru HRS dan istrinya dipanggil oleh kepolisian dan diancam ditersangkakan.
“Peristiwa dan delik pidana apa diperbuatnya?” tegas Amin.

“Apakah penegakan hukum sejak dipimpin presiden Jokowi sudah sedemikian ngawur,” tanyanya lagi.

 
Menurut dia, sebetulnya panggilan terhadap HRS dapat ditebak dengan mudah. Kesemua ini terkait dengan sikap HRS yang tetap istiqomah menuntut Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama dipenjarakan dalam kasus menista agama.

 

“Dengan melalui pemeriksaan kasus ini polisi sengaja ingin mengganggu psikologi HRS dan keluarganya. Dengan kata ingin mempermalukan ke publik dan membuat keharmonisan rumah tangganya berantakan,” tengarainya.

 

Ketimbang fokus kasus Firza, lanjut dia, kepolisian seharusnya bertindak mengusut video SARA Ahok yang jelas-jelas berpotensi memecah belah NKRI. Juga terhadap Steven Hadisurya Sulistyo yang begitu sadis menghina pribumi termasuk polisi dengan sebutan ‘Tiko’ alias tikus got.

“Meski kita hidup di era kemerdekaan tetapi kenyataannya seperti di zaman penjajahan Belanda saja,” cetusnya.