Home Berita SKAKMATE Sindiran Zheng Wei Jian Untuk Gunawan Mohamad: Serangan Kepada Amien Rais...

SKAKMATE Sindiran Zheng Wei Jian Untuk Gunawan Mohamad: Serangan Kepada Amien Rais Lumrah Dilakukan Oleh Majalah Gosip!

0
SHARE

Rakyat Jakarta –¬†Character assasination (pembunuhan karakter) adalah metode menjatuhkan reputasi seseorang. Sama seperti “smear campaigns”, targetnya: pejabat, politisi, figur publik. Setelah Habib Rizieq, kali ini Pak Amien Rais jadi “target operasi”.

Seseorang di power circle berusaha meredam gerakan The King Maker. Mereka takut. Belakangan, Pak Amien aktif dalam serangkaian Aksi Bela Islam, petisi tolak kriminalisasi ulama, tes DNA, skandal korupsi Ahok dan lain sebagainya.

Agar Pak Amien Rais tampak buruk dan unworthy,

metode “4D” ini dipakai: descredit, defamation, demonize, dehumanize.

Dalam politik, character assasination dan smear campaigns bukan barang baru.

Thomas Jefferson menyewa jurnalis melancarkan fitnah terhadap John Adams. Keduanya, sama-sama The Founding Fathers of USA. Abraham Lincoln juga abis-abisan diserang para pesaingnya.

Out of nowhere, tanpa basa basi, JPU menyebut nama Amien Rais. Publik langsung vonis Amien Rais terlibat korupsi dana alkes Siti Fadilah Supari.

Ini juga lagu lama. Taktik character assasination terdiri dari ad-hominem attacks. Selain manipulasi rumor, distorted news, half-truths dan kebohongan vulgar. Cara-cara khas propaganda majalah gossip.

Taktik-taktik keji ini efektif merusak reputasi si target. Citranya keburu ternoda sebelum kebenaran terungkap. Karena, memang itu motifnya.

Penulis Joseph Burgo (2016), dalam buku “The Narcissist You Know” mengidentifikasi para pelaku smear campaigns dan character assasination sebagai psychopaths dan narsistik.

Saya ngga tau apa seseorang di power-circle dan Gunawan Muhamad bisa masuk kategori psikopat dan narsis.

Tapi, memelintir berita foto Amien Rais yang sedang berzikir menunggu kelahiran cucu sebagai foto lunglai ketakutan karena korupsinya ketauan adalah perbuatan keji. Dan Gunawan Muhamad melakukan itu.

Penulis: Zheng Wei Jian, Aktivis Tiongho