Home Berita Selain Pasar Narkoba, Indonesia Jadi Sarang Penipu dan TKA Ilegal asal China

Selain Pasar Narkoba, Indonesia Jadi Sarang Penipu dan TKA Ilegal asal China

0
SHARE
Rakyat Jakarta – Tak hanya jadi pasar narkoba, Indonesia juga ditengarai menjadi tempat beraksinya gerombolan penipu/pemeras dan tenaga kerja ilegal asal China. Sejumlah kalangan menuding, semua terjadi karena pengawasan aparat keamanan yang lemah dalam menegakkan hukum dan menindak tegas pelakunya. Bahkan ditengarai karena hukum dan oknum aparat kita bisa ‘dibeli’ atau disuap.
“Negeri ini memang sudah menjadi pasar narkoba, jadi tempat nyaman bagi gerombolan pelaku penipuan/pemeras, dan pelaku kejahatan tenaga kerja ilegal. Aparat berwenang harus bertindak tegas terhadap pekakjunya, dan benar-benar menegakkan hukum. Jika tidak negeri ini menjadi sasaran pelaku bisnis-bisnis kotor dari negara lain termasuk China,” kata aktivis Indro S Tjahyono kepada Harian Terbit, Rabu (2/8/2017).
Menurut aktivis mahasiswa 77/78 ini,  berbagai aksi kejahatan yang dilakukan WN asal China itu tak lain karena adanya ‘main mata’ para pelaku dengan oknum petugas, bahkan melibatkan petinggi-petingi di negeri ini.
Soal narkoba, misalnya,  ada yang menuding keterlibatan aparat hukum dalam bisnis haram ini. “Selain lemahnya aparat hukum, penyebab utama adalah harga narkoba disini mahal dan yang beli banyak, sementara di China harganya sangat murah. Disana per kilogram Rp2 juta, disini bisa Rp2 miliar. Keuntungan bandarnya sangat luar biasa,” papar Indro.
Begitu juga dengan masuknya pemeras, penipu lewat kejahatan cyber. “Ini terjadi akibat lemahnya pengawasan dan sistem keamanan kita. Yang paling utama adalah aparat hukum kita tidak memberikan tindakan tegas, bahkan ada yang bisa ‘dibeli’,” kata mantan Ketua Dewan Mahasiswa ITB ini.
Hal sama disampaikan pengamat kebijakan publik Zulfikar Ahmad menyatakan mudahnya pelaku kejahatan masuk ke Indonesia karena lemhanya pengawasan.
“Saya heran, kok mereka bisa masuk tanpa pasport? Ini ada apa? Apakah ada kongkalikong WNA China itu dengan aparat kita? Ini yang harus dibuktikan pihak berwenang,” kata Zulfikar.
Seperti diketahui, baru-baru ini sebanyak 29 WN China di Jakarta dan 27 orang WN asal China di Bali yang masuk Indonesia tanpa dilengkapi dokumen seperti pasport, diamankan petugas. Mereka melakukan cyber crime.
Petugas juga sudah seringkali menangkap para pekerja ilegal asal negeri Tirai Bambu itu di sejumlah daerah, Jakarta, Bogor, Jawa Timur, Sumatera, dan daerah lainnya.
Baru-baru ini aparat membongkar narkoba jenis sabu seberat satu ton asal di Kabupaten Serang, Banten. Termasuk temuan 300 kilogram sabu dari Gudang Pluit, Jakarta Utara.
80 Persen Asal China
Penyelundupan narkoba lebih parah.  Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut, 80 Persen Sabu yang Masuk Indonesia Produksi China.
Kabag Humas BNN Kombes Sulistriandriatmoko di kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, belum lama ini mengatakan, hampir 80 persen sabu yang masuk ke Indonesia adalah produksi dari China. Sabu itu masuk dari berbagai sektor.
“Kalau berdasarkan data pengungkapan yang dilakukan oleh BNN 80 persen sabu itu produk dari China. Tergantung liku-liku masuknya lewat mana,” ucapnya.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengaku tidak heran bila Indonesia menjadi pasar empuk para bandar narkotika. Sebab, di negara-negara kawasan ASEAN, Indonesia yang menjadi pasar ekonomi paling besar dengan jumlah populasi yang besar.
“Sebagai destinasi dianggap sebagai market yang besar dan luar biasa,” kata dia di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (1/8/2017).
Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati merilis pengungkapan kasus sindikat narkoba asal Belanda dengan barang bukti sebanyak 1,2 juta butir ekstasi. Jaringan ini diungkap pada 21 Juli dalam operasi gabungan Mabes Polri, dalam hal ini Bareskrim, dan Bea Cukai di bawah Kementerian Keuangan.
Aparat Disuap
Adapun Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, menyebutkan Indonesia menjadi sasaran empuk bagi pengedar narkotika lantaran penjagaan dan keamanannya yang dianggap lemah.
“Kelemahan kita adalah dalam hal penegakan hukumnya atau law enforcement. Aparatur negara yang diharapkan untuk membentengi peredaran narkotika justru dapat dengan mudah disuap atau dikelabui. Bahkan, tak jarang dari mereka justru melindungi para bandar narkotika,” ujar Djarot di Balaikota DKI, Jakarta Pusat, Selasa (1/8/2017).
Hal tersebut, kata Djarot, membuat pengedar begitu nyaman menjadi Indonesia sebagai pasar. Djarot mengaku terhenyak dengan penemuan narkoba jenis sabu seberat satu ton asal Taiwan di Kabupaten Serang, Banten, yang terjadi beberapa pekan lalu. [ht]