Home Berita Reklamasi Selesai, Nelayan Cari Ikan Lebih Boros Dua Kali Lipat

Reklamasi Selesai, Nelayan Cari Ikan Lebih Boros Dua Kali Lipat

0
SHARE

Proyek reklamasi Teluk Jakarta diprediksi dapat mengubah hidup nelayan berbalik 180 derajat. Diantara dampak buruk yang dirasakan langsung adalah kriminalisasi dan hancurnya kehidupan sosial ekonomi.

Tak hanya akan mengurangi jumlah hasil laut secara drastis, pelaksanaan 17 pulau buatan ini juga akan meningkatkan modal untuk mencari ikan sebanyak dua kali lipat. Hal ini diungkapkan oleh laporan awal tahun Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan (Kiara)

“Pusat Data dan Informasi KIARA mencatat bahwa hampir semua kebutuhan melaut nelayan naik dua kali lipat. Pada saat yang sama, hasil tangkapan ikan serta penghasilan mereka menurun sangat drastis,” ujar Deputi Hukum dan Kebijakan Kiara, Rosiful Amirudin kepada Aktual, Jum’at (3/3).

Nelayan di sekitar pantai Jakarta, disebut Rosiful, harus  membeli solar sebanyak 10 liter untuk melaut pada 2016 lalu. Kebutuhan ini meningkat dua kali lipat dari jumlah solar sebelum adanya proyek reklamasi yang hanya butuh 5 liter saja untuk melaut.

Meningkatnya kebutuhan bahan bakar untuk melaut disebabkan oleh faktor lamanya waktu melaut yang menjadi lebih lama dari sebelum adanya pelaksanaan reklamasi. Pasca reklamasi, waktu yang dibutuhkan nelayan untuk melaut mencapai 18-20 jam, jauh lebih lama ketika belum terjadi reklamasi, yaitu 10 jam saja.

Kenaikan modal untuk melaut yang sangat signifikan nyatanya tidak berbanding lurus dengan hasil yang di dapat. Lamanya waktu di laut dan tingginya biaya yang dikeluarkan ternyata hanya menghasilkan 10 persen dari hasil normal yang didapat sebelum adanya reklamasi.

“Kondisi ini memaksa nelayan terus berada dalam kubangan kemiskinan dari waktu ke waktu. Dengan demikian, kemiskinan di wilayah pesisir adalah buah dari ketidakadilan struktural yang dipertahankan oleh kekuasaan,” ucap Rosiful.

Gambaran mengenai perubahan hidup nelayan yang paling mencolok, menurut Rosiful, yang juga disebutkan dalam laporan awal tahun Kiara, adalah penghasilan yang sangat merosot tajam.

Bayangkan saja, sebelum reklamasi terjadi, nelayan dapat meraup Rp5 juta dalam waktu sehari. Namun layaknya roda yang berputar, kini nelayan hanya meraih penghasilan ‘hanya’ Rp 300 ribu saja dalam waktu yang sama.

[Republika]