Home Berita Presiden Jokowi Dikritik Soal Demokrasi Kebablasan

Presiden Jokowi Dikritik Soal Demokrasi Kebablasan

0
SHARE

Pendapat Presiden Jokowi yang menyebut demokrasi di Indonesia saat ini kebablasan menjadi perhatian sejumlah pihak di masyarakat. Pengamat sosial budaya yang juga seorang kolumnis, Hamid Basyaib menyarankan, sebaiknya presiden jangan pernah menggunakan istilah ‘demokrasi kebablasan’ tersebut.

Dia menilai, penerapan demokrasi di Indonesia saat ini serta kaitannya dengan era digitalisasi, tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi saja. Mengingat, masyarakat Indonesia ini juga pernah hidup di era 30 tahun lebih terkungkung Orde Baru.

“Karena demokrasi tidak selalu kebablasan. Kita jangan sampai lupa background panjang perjalanannya di mana lebih dari 30 tahun kita ditekan,” kata Hamid dalam sebuah diskusi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu 25 Februari 2017.

Dia menilai, pemerintah tidak bisa melihat iklim demokrasi di Indonesia saat ini hanya dari sisi negatif saja, melainkan juga dari sejumlah hal positif yang bisa dihasilkan dari persinggungan antara demokrasi dan era digital tersebut.

“Pemerintah harus bisa juga melihat dari sisi positifnya. Belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia di mana tiba-tiba kesetaraan terjadi secara serentak. Jika kita lihat beberapa tahun lalu, negara besar seperti AS (Amerika Serikat) bahkan sampai bisa perang melawan individu seperti Osama Bin Laden,” ujarnya.

Dengan adanya era keterbukaan akses informasi seperti saat ini dan kaitannya dengan penerapan sistem demokrasi, Hamid berharap bahwa pemerintah bisa lebih jeli dalam melihat sejumlah peluang yang bisa dimanfaatkan.

Karena menurutnya, melalui apa yang terjadi di era media sosial seperti saat ini, siapa pun termasuk pemerintah sangat berpeluang mengambil manfaat yang bisa diciptakan dari berbagai dinamika, yang terjadi antara demokrasi dan perkembangan pesat dunia digital hari ini.

“Jadi selain ada krisis sosmed (sosial media) , ada juga peluang sosmed. Ada berkah yang sangat luar biasa dalam hal pemerataan kecerdasan.  bisa dapat hal-hal dari berbagai bidang, langsung dari para pakarnya. Bahkan anda bisa ikut kelas mata kuliah di Harvard melalui konektivitas dunia maya saat ini,” kata Hamid.

Sekali lagi Hamid menegaskan bahwa sebutan demokrasi kebablasan sangatlah tidak tepat. “Jadi yang harus dilihat adalah, kerangka tentang demokrasi yang kebablasan itu sangat tidak tepat. Karena dengan demokrasi, ternyata kita juga bisa dapat berkah teknologi. Betapa dahsyatnya gelombang ini,” tambahnya.