Home Berita Otokritik Pribumi : Wajarlah Orang Tionghoa Sombong

Otokritik Pribumi : Wajarlah Orang Tionghoa Sombong

0
SHARE

SUPAYA tidak salah paham, tulisan ini haruslah Anda baca lengkap; dan jangan diambil sepotong-sepotong. Mungkin banyak yang kurang berkenan, tetapi marilah sama-sama berusaha melihat aspek positifnya. Tidak dimaksudkan untuk membuka aib sendiri, tetapi untuk membangkitkan semangat juang Anda, semangat juang kita semua.

Kembali ke pernyataan yang ada di judul tulisan ini, saya memang sudah lama menyimpulkan bahwa orang-orang Tioghoa yang ada di Indonesia ini sangat wajar menunjukkan kesombongan atau bahkan keangkuhan. Tentunya, tidak semua orang Tionghoa sombong atau angkuh. Tetapi jumlah kecil yang tidak sombong membuat generalisasi menjadi bisa dimaklumi. Saya punya sejumlah teman dekat orang Tionghoa, alhamdulillah mereka tidak sombong.

Kenapa dikatakan wajar sombong? Karena memang faktanya merekalah yang pada dasarnya “mengelola” Indonesia ini. Merekalah yang menjadi majikan di sini. Kepada merekalah kita menjual apa yang kita hasilkan, dan dari mereka pula kita membeli apa-apa yang kita perlukan.

Merekalah yang memiliki gedung-gedung pencakar langit di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Merekalah yang bisa mengatur ekspor-impor hampir semua komoditas yang diperlukan rakyat Indonesia, dari Barat sampai ke Timur. Merekalah yang mengatur produksi dan penjualan barang-barang mewah maupun yang murahan; dan merekalah yang mengatur peredaran beras, gula, terigu, minyak goreng, bahkan cabai-bawang.

KEPADA merekalah petani pribumi menjual gabah, kemudian membelinya kembali dalam bentuk beras. Mereka yang menetukan harga TBS sawit, kemudian kita beli kembali dalam bentuk minyak goreng dan mentega. Petani pribumi menjual cengkeh kepada pengusaha Tionghoa, kemudian petani yang sama mebeli kembali cengkeh dalam bentuk rokok kretek.

Di tangan merekalah perekonomian Indonesia ini ditentukan; di tangan merekalah krisis ekonomi atau krisis moneter bisa terjadi atau diciptakan. Itulah sebabnya mereka wajar menunjukkan kesombongan. Ini bukan isapan jempol, melainkan fakta yang sudah terbukti.

Bisa dimaklumi kalau mereka enggan atau tidak mau bergaul dengan orang pribumi. Karena mereka merasa tidak “memerlukan” orang pribumi, kecuali sebagai pembeli, sebagai konsumen.

Orang Tionghoa tahu persis bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) mereka memang jauh lebih bagus dari kualitas orang pribumi. Di segala bidang, terutama sektor perniagaan, bisnis, manufaktur, perindustrian, dan kewirausahaan. Mereka juga hebat-hebat di bidang pendidikan dan kedokteran.

TETAPI karena di bidang perekonomian dan keuanganlah yang langsung bisa tampak setiap hari, ada kesan orang Tionghoa hanya unggul dalam penguasaan aset, perdagangan dan keuangan. Sebenarnya tidak hanya itu. Di semua lini mereka unggul.

Silakan saja didata bidang kehidupan yang ada di Indonesia ini, dan tunjukkan di bidang apa saja orang Tionghoa tidak unggul. Sebaliknya, silakan dihitung di bidang apa saja orang pribumi bisa disebut dominan. Paling-paling hanya di satu bidang orang pribumi unggul: yaitu penguasaan birokrasi pemerintahan. Bahkan penguasaan di sini pun menjadi semu karena simpul-simpul penting birokrasi itu, pada hakikatnya, “dikuasai” juga secara tidak langsung oleh orang Tionghoa. Tidak semua; masih ada di sana-sini yang tidak dikuasai oleh mereka.

Menurut hemat saya, orang Tionghoa sudah sampai pada kesimpulan bahwa mereka tidak akan pernah tergoyahkan lagi oleh orang pribumi, terutama di bidang perdagangan, bisnis, dan perindustrian termasuk industri pertanian serta perikanan. Lihat saja penguasaan mereka di bidang perniagaan jasa, juga mutlak.

MASUK akal kalau mereka merasa tidak tergoyahkan lagi. Sebab, mereka menyiapkan skenario penguasaan jangka panjang, tak berbatas waktu. Mereka tidak terlena dengan dominasi atas segala bidang kehidupan itu. Mereka tidak hanyut dengan akumulasi kekayaan yang mereka kuasai. Mereka sangat sadar bahwa penguasaan itu harus berlanjut dari generasi ke generasi. Dari kesadaran ini mereka membuat persiapan yang rapi untuk estafet penguasaan di segala bidang itu.

Mereka menyiapkan SDM yang tangguh, ulet, tidak manja, tidak cengeng, tidak mudah menyerah. Orang Tionghoa memberikan pendidikan yang berkualitas kepada anak-cucu mereka. Di banyak kota dan pelosok Indonesia, masyarakat Tionghoa “tidak percaya” pada sistem pendidikan formal yang disiapkan oleh negara. Mereka membangun sekolah dasar, menengah, dan tinggi untuk warga mereka sendiri. Ternyata hasilnya memang hebat; selalu muncul anak-didik yang unggul di semua mata pelajaran, terutama ilmu dan keterampilan yang strategis.

Semua ini tidak berlangsung secara kebetulan. “Orang Tionghoa sangat keras semangat dan keras pengorbanan untuk menyiapkan keunggulan anak-cucu mereka,” kata seorang teman yang paham kehidupan masyarakat Tionghoa.

MEREKA itu gigih. Generasi penerus ditempa dengan disiplin yang keras. Diajarkan untuk menjadi visioner. Kepada generasi penerus dijelaskan dan ditunjukkan tentang mengapa mereka harus unggul di segala bidang. Sebagaimana lumrahnya mentalitas masyarakat minoritas di mana-mana. Boleh dikatakan semua unit keluarga Tionghoa memahami itu.

Anak-anak mereka diajarkan hidup pahit di awal untuk kemudian menjadi pemilik kekayaan di kemudian hari. Banyak yang bercerita tentang “tradisi” keras di masyarakat Tionghoa. Mereka selalu menakar pengeluaran agar tidak lebih besar dari penghasilan. Mereka akan makan seadanya dulu walaupun mampu membeli nasi sop. Mereka tidak memberikan jajan kepada anak-anak mereka, tetapi menggaji anak-anak yang ditugaskan menunggui toko-toko mereka.

Orang Tionghoa “mengharamkan” pengangguran. Mereka tidak akan buang-buang waktu di warung kopi sambil main gaplek. Mereka bangun pagi-pagi untuk memulai usaha harian, dan baru akan mengakhiri jam kerja sampai malam. Kerja keras inilah yang sekarang membuat banyak orang Tioghoa berhasil menguasai perniagaan dan distribusi barang-barang yang kita beli sehari-hari. Hasil kerja keras itu pula yang membuat sebagian kita iri hati dan, bahkan, marah-marah. Etos kerja mereka sangat tinggi.

RATA-RATA orang Tionghoa tidak berwatak menghambur-hamburkan uang. Mereka membeli yang diperlukan, bukan yang diinginkan. Mereka akan menggunakan sepedamotor walaupun sudah mampu membeli mobil. Anak-anak orang kaya Tionghoa diajarkan untuk tidak memamerkan kekayaan orangtua mereka walaupun orangtua mampu membelikan barang mewah untuk anak-anaknya.

Pendidikan untuk anak-anak mereka sangat mereka pentingkan. Keluarga “miskin” pun akan berusaha sekuat tenaga agar anak-anak mereka bisa belajar di sekolah-sekolah berkualitas yang mereka bangun dan kembangkan sendiri. Mereka tidak segan-segan menghabiskan dana dalam jumlah besar kalau itu bisa mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah atau universitas terbaik, baik di dalam negeri maupun di luar. Ini semua adalah bagian dari persiapan generasi penerus supaya penguasaan ekonomi dan keuangan di Indonesia tidak pernah berpindah tangan.

Anak-anak mereka pun suka belajar sungguh-sungguh. Hampir tidak ada anak-anak Tionghoa yang berkeliaran tanpa tujuan seperti anak-anak pribumi. Para orangtua Tionghoa membiasakan anak-anak mereka untuk kerja keras menguasai ilmu pengetahuan. Di rumah, anak-anak Tionghoa sibuk dengan buku-buku bacaan atau membantu orangtua. Mereka rata-rata bisa berbahasa Inggris dengan baik karena semua mereka punya target untuk sekolah ke luar negeri.

BAGAIMANA dengan orang pribumi? Tidak banyak yang sadar, siap, dan rela mengikuti cara hidup warga Tionghoa. Dengan alasan tersungkup kemiskinan, orang pribumi cenderung menyerah pada keadaan. Tampak tidak ada semangat untuk membina keluarga. Kita membiarkan kemiskinan sebagai keniscayaan hidup kita; seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Kita biarkan anak-anak kita berkeliaran sesuka hati, setiap hari. Di kantung-kantung kemiskinan, semisal daerah pinggir pantai, orang pribumi bagaikan serentak tidak mempedulikan anak-anak mereka membuang waktu. Bahkan tidak sedikit yang mengharapkan anak-anak mereka mencari penghasilan untuk keluarga. Satu-dua ada yang benar jalannya, namun ribuan anak remaja lainnya terperangkap ke jalan yang berbahaya seperti terikut menjadi kurir dan penjual narkoba. Setelah lama berpengalaman, sebagian anak-anak itu kemudian naik tingkat menjadi bandar narkoba lokalan.

Dalam keadaan berkemampuan, orang pribumi biasanya lebih mengutamakan keinginan untuk menunjukkan ke-berada-annya. Seringkali menempuh gaya hidup besar pasak dari tiang. Misalnya, membeli mobil pada saat mereka baru bisa membeli sepedamotor. Menjual tanah untuk membeli barang-barang mewah ketimbang mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah atau universitas yang berkualitas.

ORANG pribumi akan memanjakan anak-anak mereka pada saat anak-anak Tionghoa digembleng dengan disiplin dan kerja karas. Orang pribumi akan mengarahkan anak-anak mereka untuk menjadi pegawai negeri, sementara orang Tionghoa siap menjadi wiraswasta yang akan menjadikan para pegawai negeri dan keluarga mereka sebagai pembeli dan konsumen.

Orang Tionghoa selalu bekerja efisien, sementara orang pribumi yang menjadi pejabat penting pemerintahan akan berusaha “mengada-adakan” lapangan kerja di lingkungan kerja mereka untuk sanak-saudara mereka. Akibatnya, banyak instansi, terutama di tingkat daerah, yang kelebihan pegawai. Banyak pegawai yang hanya mondar-mandir karena nyaris tidak ada yang mereka kerjakan. Lihat saja di kantor gubernur, kantor bupati, kantor dinas pendapatan, dinas perhubungan, dan instansi-instansi lainnya.

Mohon maaf kepada para pegawai negeri yang membaca tulisan ini. Tidak ada maksud untuk menyinggung perasaan Anda. Semata-mata ingin menyadarkan kita semua, kalau pun iya, bahwa praktik seperti ini hanya akan mempersubur mentalitas amtenaar, mentalitas ongkang-ongkang, yang sebetulnya sangat merugikan generasi penerus kita sendiri.

Maaf, saya harus mengakui kehebatan Pak Ahok di Pemprov DKI terlepas dari kontrovesi yang mengelilingi beliau. Pak Ahok melihat begitu banyak unit kerja yang memiliki jumlah SDM yang berlebih dari kebutuhan operasional. Beliau berpendapat Jakarta bisa dilayani oleh 35 ribu pegawai, mengapa harus 72 ribu?

SEKALI lagi, maaf. Tidak bermaksud meringankan Pak Ahok dalam kasus penistaan agama yang didakwakan kepadanya. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa sikap mental orang pribumi sebaiknya diubah, dan diubah sekarang juga. Kita, orang pribumi, sebaiknya menyibukkan diri untuk mempersiapkan generasi muda yang memiliki kemampuan wirausaha yang tangguh dan ulet.

Jangan lagi berpikir hidup nyaman menjadi PNS, padahal sangat banyak peluang di luar birokrasi untuk hidup lebih baik. Bukankah hidup dengan kemampuan wirausaha akan membuat Anda bisa berguna bagi manusia lainnya? Anda menciptakan lapangan kerja. Anda menjadi orang yang kreatif.

Anda akan melahirkan generasi pribumi yang tangguh dan memahami dunia usaha, mengerti berniaga, menguasai industri, menguasai jaringan distribusi barang, menguasai perdagangan jasa, dsb. Anda bisa menjadi kompetitor dalam arti positif bagi para pengusaha besar dan bagi para konglomerat Tionghoa. Anda bisa, meskipun hari ini masih angan-angan!

JANGAN percaya pada mitos bahwa orang Tionghoa memang ditakdirkan untuk menjadi pelaku bisnis dan industri. Orang pribumi tidak bisa. Ini hanya masalah mentalitas. Kalau kita mau mengubah dan berubah, orang pribumi pun bisa menjadi pedagang besar, bisa menjadi saudagar, menjadi konglomerat.

Ada cerita nyata yang saya dapatkan dari ponakan yang mencoba untuk berbisnis. Sampailah dia ke pinggir lingkaran para pebisnis orang Tionghoa, hingga akhirnya dia bisa masuk ke grup Whatsapp mereka.

Dari cerita ponakan itu ada pelajaran penting yang selama ini saya anggap tidak benar. Yaitu, tradisi tolong-menolong, katrol-mengkatrol, diantara para pebisnis Tionghoa. Kalau ada seorang pendatang baru Tionghoa yang mau berusaha, bedagang, maka para senioran di lingkaran mereka siap membantu. Ada yang menyediakan modal atau mempersilakan ambil dulu barang-barang dagangan dari mereka. Tidak mesti si pendatang baru itu sudah kenal dengan para senior.

Kalau belum berhasil, si pendatang baru akan dibantu terus asalkan dia menunjukkan kesungguhan dan kejujuran. Menurut cerita ponakan saya, kalau orang yang ditolong tidak jujur, maka para senior akan menjatuhkan hukuman berat. Si pendatang baru akan disebarluaskan sebagai orang yang tidak perlu ditolong.

BEGITULAH teladan solidaritas di kalangan masyarakat Tionghoa. Perlukah orang pribumi mencontoh ini, atau tidak?

Bagi pribumi yang juga muslim, solidaritas seperti ini adalah bagian dari sunnah. Rasulullah SAW mengajarkan itu. Tidak hanya berjemaah di masjid, tetapi diajarkan juga berjemaah dalam bisnis dan perekonomian umumnya.

Mari sama-sama kita, orang pribumi, berubah sikap dan mengubah mentalitas. Para pemegang kekuasaan juga perlu mengubah sikap agar tidak lagi menjadi orang-orang yang mudah dibeli oleh para pengusaha. Tidakkah Anda rasakan bahwa ketika mereka membeli Anda, itu artinya mereka juga membeli segenap orang pribumi?

Mengapa Anda tidak menumbuhkan rasa prihatin terhadap orang pribumi yang sepanjang zama hanya berperan sebagai penonton? Mengapa Anda, para pejabat dan pemimpin bangsa, tidak terpanggil untuk menyelamatkan generasi penerus pribumi yang sejak lama dihimpit kemiskinan? Tidakkan Anda cemas melihat begitu banyak anak pribumi menjadi pemakai narkoba; bahkan penghisap lem karena tidak sanggup membeli sabu-sabu?

TIDAKKAH Anda merasa malu melihat statistik yang menunjukkan sedikit sekali atau hampir tidak ada orang Tionghoa yang terjerumus menjadi pemakai narkoba, meskipun banyak mereka yang berperan sebagai bandar dan pengedarnya?

Mengapa Anda tidak mau mengukir sejarah sebagai orang yang berupaya mengangkat martabat kaum Anda sendiri agar mereka tidak lagi bodoh, miskin, lemah fisik, lemah mental, dan harus menjadi penghuni rumah rahabilitasi narkoba?

Tidakkah Anda merasa malu duduk sebagai presiden, wakil presiden, menteri, gubernur, bupati, ketua DPR, anggota DPR, ketua MA, ketua MK, sementara kaum pribumi tidak bisa lepas dari citra yang disebut oleh Presiden Soekarno sebagai “bangsa kuli”?(*)

(Isi tulisan ini merupakan opini pribadi penulis, tidak ada kaitannya dengan BBC)

Oleh Asyari Usman (Mantan Wartawan Senior BBC)