Home Berita Orasi Provokatif Gubernur Kalbar (Kader PDIP) Pemicu Penolakan Ketum FPI

Orasi Provokatif Gubernur Kalbar (Kader PDIP) Pemicu Penolakan Ketum FPI

0
SHARE
Rakyat Jakarta – Penghadangan Ketua Umum DPP FPI, KH Achmad Sobri Lubis (ALS) oleh aparat di Bandara Bandara Supadio, Pontianak, diduga akibat dipicu oleh pidato Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis. Pasalnya, politisi partai PDI-P tersebut dalam orasinya sempat berjanji akan menolak kehadiran tokoh FPI Habib Rizieq Shihab dan KH Tengku Zulkarnaen.
Hal itu diutarakan oleh Sekretaris Dewan Perwakilan Daerah FPI Kalimantan Barat, Syarif Kurniawan kepada Kiblat.net pada Sabtu (06/05). Ia menuturkan bahwa kedatangan KH Achmad Sobri Lubis ke Kalbar murni atas undangan pengurus Masjid Al Falah, Kabupaten Menpawah, Kalimantan Barat untuk mengisi tabligh akbar memperingati Isra Mi’raj 1438 H.
“Gubernur ini sangat provokatif, kami minta semuanya menyuarakan kecamannya atas tindakan dan pernyataannya terhadap Ulama kita,” tegasnya.
Begitu tiba di Bandara pada Jumat malam (05/05), aparat menghadang KH Achmad Sobri Lubis. Insiden penghadangan tersebut terjadi setelah adanya desakan dari suku Dayak yang diduga terprovokasi oleh pidato Cornelis yang disampaikan seminggu sebelumnya. Akibatnya, pada malam yang sama ALS terpaksa kembali ke Jakarta.
Acara Tabligh Akbar di Masjid Al Falah, Menpawah rencananya akan dihadiri oleh KH Achmad Sobri Lubis, Ustadz Alfian Tanjung, Ustadz Nababan, dan Ustadz Haikal Hasan. Akan tetapi, Syarif Kurniawan mengatakan hanya dua pemateri yang hadir setelah Haikal Hasan berhalangan dan ALS mendapatkan penolakan.
“Polisi mungkin juga mempertimbangkan keamanan, jika pemateri dari Jakarta seperti Ustadz Alfian Tanjung ini dilarang juga, maka umat Islam akan marah dan melakukan perlawanan, karenanya Ustadz Alfian Tanjung jadi hadir dan menjadi penceramah pada Tabligh Akbar ini,” ungkapnya.

Insiden penghadangan tersebut merupakan yang kedua kalinya terjadi. Setelah sebelumnya kedatangan KH Tengku Zulkarnaen turut mendapat penolakan oleh masyarakat Dayak dan aparat. Syarif Kurniawan mengaku sedih dan tak ingin insiden ini terjadi untuk ketiga kalinya.
“Kami sangat sedih. Ulama kami kembali dilarang. Ini sudah kedua kalinya, dan jika memang akan terjadi lagi, maka kami sudah siap berjihad,” ungkapnya​.
Aksi protes dan bentrok sempat terjadi antara aparat dan umat Islam di bandara. Namun sejumlah ulama Kalbar seperti Habib Abdurrahman meminta massa agar dapat menahan diri. Atas insiden tersebut, Syarif Kurniawan meminta agar umat Islam di Indonesia dapat memberikan dukungan moril berupa doa atas tragedi tersebut.
“Kami sangat berharap, saudara-saudara kami umat Islam di luar daerah dapat membantu baik moril dan dukungan kepada kami. Karena sudah 2 periode ini kami dipimpin oleh pemimpin Nasrani. Jadi kami tau bagaimana tersiksanya umat Islam disini,” tukasnyanya.