Home Berita Warga Makassar Gerah dengan Ulah Ahokers & Politisi PDIP

Warga Makassar Gerah dengan Ulah Ahokers & Politisi PDIP

0
SHARE

Rakyat Jakarta – wakil Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPP KKSS), Andi Jamaro mengaku sangat terganggu melihat ulah politisi PDI-P dan Ahoker.

Pasalnya, manuver mereka belakangan justru bernada sengaja ingin memecah belah keharmonisan Istana dengan mengadu domba Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

“Presiden dan Wakil Presiden jangan dipecah belah. Orang-orang ini mentang-mentang merasa dekat dengan istana sehingga seenaknya mengumbar tudingan. Mereka merasa paling modern dan paling demokrasi. Sehingga seenaknya bicara,” kata Andi, usai menggelar rapat, di Wisma Sulsel di Jalan Yusuf Adiwinata, Jakarta Pusat, Rabu (17/5/2017).

Menurut Andi, tudingan yang belakangan mengarah kepada tokoh Bugis Makasar itu merupakan rangkaian ulah kelompok yang ingin memecah belah bangsa.

“Mereka ini jago bikin meme yang m‎engatasnamakan NKRI dan Kebhinekaan. Tetapi sebenarnya ingin memecah belah anak bangsa,” katanya.

Karenanya, kata dia, sebagai pihak yang rasional, pihaknya tidak akan pernah terpancing.

“Mari kita bantu masyarakat kita melek terhadap siasat nakal dan jahat yang sedang gencar mereka mainkan. Umat tidak boleh gegabah. Kita lihat dan tunggu saja permainan mereka ini akan berakhir seperti apa,” ungkapnya.

Namun demikian, Andi memastikan, pihaknya siap bereaksi bila mana Ahoker tetap menyudutkan nama baik JK.

“Kami siap pasang badan untuk melawan setiap upaya pencemaran nama baik dan fitnah kepada orang tua kami, Pak JK. Jangan coba-coba mencederai martabat dan marwah Pak JK. Beliau adalah Wakil Presiden pemimpin bangsa ini,” katanya.

Diketahui, Andi bersama beberapa tokoh asal Makassar, Bugis, Mandar dan Toraja menggelar pertemuan tertutup menyikapi tudingan Adian Napitupulu (politisi PDIP) dan Koordinator Solidaritas Merah Putih (Solmet), Silvester Matutina yang menyebut orang nomor 2 di Indonesia itu rakus kekuasaan sehingga melawan sikap politik Presiden Jokowi.

Dalam orasinya pada acara Refleksi Gerakan Mahasiswa 98 ‘Melawan Kebangkitan Orde Baru’ di Graha Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Senin (15/5/2017) lalu, Adian secara serampangan menyebut JK dan beberapa menteri di Kabinet Kerja menunjukkan gelagat pengkhianatan terhadap Presiden Jokowi.

Para mantan aktivis yang tergabung dalam Persatuan Nasional Aktivis 98 (PENA 98) meminta agar semua pihak yang berada di lingkaran Istana Negara untuk tidak berkhianat terhadap Presiden Joko Widodo.

Pasalnya, PENA 98 mensinyalir, ada sejumlah elit dan menteri yang berpotensi mengkhianati Presiden.

“Kalau mereka mengkhianati (Jokowi), kita akan mancatat namanya satu per satu. Siapa pun itu,” kata Adian yang juga Sekjen PENA 98, dalam acara “Refleksi Gerakan Mahasiswa 98 Melawan Kebangkitan Orde Baru” di Graha Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Senin (15/5/2017) malam.

Politisi PDIP ini menegaskan, pihaknya telah mencatat sejumlah menteri yang berpotensi mengkhianati presiden dan pemerintahan yang dipilih secara demokratis oleh rakyat.

“Kalau misalnya kemudian Wakil Presiden juga mau mencoba-coba (khianati Jokowi), kita akan mencatat namanya. Dan kami harap, kerakusan-kerakusan untuk berkuasa tidak mengorbankan rakyat kita,” tegas Adian.

Selain Adian, beredar juga massa yang diduga adalah pendukung Ahok (Ahoker) yang juga menghina JK. Koordinator Solidaritas Merah Putih (Solmet), Silfester Matutina, menilai Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) sebagai akar permasalah Indonesia saat ini.

“Akar permasalahan bangsa ini adalah ambisi politik Jusuf Kalla,” tegas Matutina dalam video orasinya yang menjadi viral itu.

Menurutnya, Jk-lah yang menggunakan rasisme, isu SARA untuk memenangkan Anies-Sandi. “Untuk kepentingan JK 2019, untuk kepentingan korupsi keluarga JK,” ujarnya.‎