Home Berita Menjadi Bangkai Politik dan Framing Media Mainstream yang Tidak Etis

Menjadi Bangkai Politik dan Framing Media Mainstream yang Tidak Etis

0
SHARE

Rakyat Jakarta – “Maaf. Jika ingin bertemu, silakan. Tapi terbuka. Biarkan media melansir. Biarkan mereka tahu hasil pembicaraan. Toh pasti terbaik untuk bangsa.
Jika pertemuan rahasia, saya tahu, saya hanya akan jadi bangkai politik Anda.”

Amien Rais jelas bukanlah politisi kelas teri. Bukan pula politisi yang bagaikan anak yang baru lahir kemarin sore.
Dengan jam terbangnya selama ini, beliau layak untuk dikategorikan sebagai politisi senior yang kawakan.

Beliau pastinya punya maklumat yang cukup untuk memahami peta perpolitikan nasional, berikut segala intrik² yang terjadi dan yang berpotensi terjadi darinya, termasuk jebakan² dan ranjau² bertebaran yang mengintai disana sini.

Dalam kutipan di atas, konon ceritanya Amien Rais mau diajak ketemuan oleh orang penting. Utusan orang penting itu mengatakan, pertemuan akan diadakan secara tertutup (rahasia). Lalu keluarlah jawaban beliau kepada utusan tersebut, sebagaimana kutipan di atas.
Begitu ceritanya.

Yang menarik disini adalah istilah “bangkai politik” yang beliau gunakan.
Tapi untuk memahami maknanya, kita mau tidak mau harus memahami dulu konsekuensi dari pertemuan tertutup yang dimaksud dan mengapa beliau menghindarinya.

Framing dan Netralitas Manusia

Pernah kita bahas dalam coretan yang berjudul NETRAL ATAU SOK NETRAL, bahwa manusia itu tidak akan mungkin bisa bersikap netral. Itu impossible (tidak memungkinkan).
Tapi kalau bersikap adil, itu possible (memungkinkan). Dan bahkan itu memang Allah SWT wajibkan.

Demikian pula dengan media. Berharap ada media yang netral, adalah impossible. Semua media itu pasti punya idealisme tertentu yang menjadi pijakannya dalam semua sikap²nya.

Maka adalah hal yang alami/wajar bila seorang manusia dalam mengutip ucapan orang lain, demikian pula dengan media dalam mengutip perkataan pihak lain… melakukan framing.

Itu adalah hal yang manusiawi.
Hanya saja yang menjadi persoalan, framing-nya itu etis apa tidak. Sesuai fakta atau tidak. Beradab apa tidak. Menjunjung akhlaqul-karïmah apa tidak.

Nah, terkait dengan itu, seorang politisi kawakan pasti akan sangat hati² dalam mengeluarkan statement. Ya terkait waktunya, ya terkait tempatnya.
Karena dia harus sadar, bahwa setiap statement yang dia keluarkan, pasti akan selalu ada yang mem-framing.

Contohnya saat Amien Rais berkunjung ke Kantor DPP HTI beberapa waktu yang lalu. Beliau mengeluarkan statement pujian yang kemudian di-framing dan diviralkan oleh para syabab HTI dengan penuh rasa haru, yang diberi judul “Uang Pemberian, Membuat Lidah jadi Kaku”.

Yakin haqqul-yaqin, beliau saat mengeluarkan statement pujian itu, pasti sadar bahwa statement pujiannya kepada HTI itu bakal di-framing.
Tapi beliau santai saja dalam mengatakannya, tanpa beban, tanpa curiga, dan bahkan merasa safe, karena beliau paham dimanakah beliau (saat mengeluarkan statemen tersebut) berada. Dan beliau sudah paham, framing yang mungkin terjadi pastilah akan sesuai dengan faktanya.

Dalam kutipan di atas,
Beliau pastinya mengambil pelajaran dari bagaimana pertemuan beliau dgn SBY dahulu di bandara (saat SBY masih berkuasa), di-framing sedemikian rupa gak karu²an oleh media.
Sehingga mungkin dari pelajaran itu, beliau tak mau masuk dalam jebakan yang sama, sehingga beliau akhirnya mengeluarkan jawaban sebagaimana dalam kutipan di atas.
Beliau tak mau jadi bangkai politik pihak lain.

Inilah hikmah dari bagaimana bencinya Allah dan RasulNya kepada para ulama yang mendatangi istana para penguasa.
Dalil² tentang (ulama berkunjung ke istana penguasa) ini banyak bertebaran di internet dan di medsos, disampaikan oleh orang² alim. Sehingga al-faqïr merasa tak perlu mencantumkannya lagi di coretan ini.

Karena Allah dan RasulNya pasti tahu. Manusia itu memang lazim mem-framing. Apalagi penguasa zhalim, yang pasti akan selalu berusaha mencari legitimasi atas kebijakan²nya. Wong berdusta terang²an aja mereka mau melakukannya, apalagi kok cuma framing.
Dan kedatangan para ulama ke istana penguasa, pasti akan di-framing.

Istana penguasa adalah sama rawannya dengan tempat rahasia (dimana pertemuan dilakukan secara tertutup/rahasia) yang ditawarkan kepada Amien Rais di atas.
Sama rawannya.
Rawan mengalami framing, yang framing tersebut bakal susah untuk bisa dinilai secara obyektif oleh publik.
Karena percakapan asli yang belum di-framing pastilah bakal sulit diakses oleh publik.

Satu lagi bukti, bahwa dimana ada perintah dan larangan Allah, pasti disitu ada manfaat bagi siapapun yang mau mentaatinya.

GNPF-MUI

Lain Amien Rais, lain GNPF-MUI.
Bila Amien Rais enggan bertemu dengan orang penting itu di tempat yang tidak bisa bebas diakses publik, GNPF-MUI malah “sowan” ke Istana Negara.

Publik dihebohkan dengan berita, Ahad kemarin GNPF-MUI dan Jokowi halal bihalal di Istana Negara.
Kita tak ada yang tahu persis, apa niat yang ada di dalam hati tim GNPF-MUI, sehingga datang berkunjung ke Istana Negara.
Jadi kita tidak perlu berprasangka.

Semua kemungkinan terbuka.
Mulai dari karena sekedar ingin selfie² sebagaimana kebanyakan rakyat awam lainnya, yang ingin punya foto yang bisa ditunjukkan kepada anak-cucu bahwa dirinya pernah masuk ke Istana Negara dan berfoto ria bersama presiden.
Sampai karena ada pembicaraan tertentu di antara kedua pihak.
Semua kemungkinan terbuka.

Apalagi kok soal konten pembicaraan antara kedua belah pihak.
Apa sebenarnya yang mereka bicarakan?
Apakah itu sesuatu yang serius?
Apakah itu rekonsiliasi?
Kerjasama?
Jokowi tunduk kepada GNPF-MUI?
GNPF-MUI tunduk kepada Jokowi?
Atau apa?
Semua kemungkinan terbuka.

Framing yang beredar di medsos juga sebanyak itu variannya.
Sampai ngeri² sedap kita bacanya.
Dan semuanya nasibnya sama. Yaitu (baik yg dirilis oleh GNPF-MUI, Kompas, detik.com, Tribun, dll, dll), tak ada yang bisa kita konfirmasi kebenarannya.
Karena transkrip/video pembicaraannya yang asli, yang bebas framing, tak bisa diakses oleh publik.

Beda nasibnya dengan HTI yang di-framing oleh Aiman dalam Mendadak Khilafah kemarin.
Karena pasca ditayangkan, video wawancara aslinya yang bebas framing, beredar secara luas di medsos. Sehingga publik bisa dengan mudah menilai, bahwa framing yang dilakukan oleh Aiman adalah sangat tidak etis.

Terkait dengan “sowan” GNPF-MUI ke Istana Negara, akhirnya hanya bisa melahirkan tanda tanya besar yang sulit untuk dicari konfirmasinya oleh publik.

Yang masih bisa kita lakukan cuma tinggal ber- husnu zhan saja.
Tapi repotnya husnu zhan itu (dalam kasus ini)… walaupun husn (baik) ia tetaplah zhan (persangkaan) belaka.