Home Berita Membaca Gerakan 30 Maret

Membaca Gerakan 30 Maret

0
SHARE

BELAKANGAN beredar kabar di berbagai media akan ada hajatan mahasiswa melakukan aksi besar terhadap pemerintah berkuasa saat ini, gerakan yang menurut analisa sementara merupakan akumulasi kegagalan pemerintahan sekarang ataupun bila tidak ingin dikatakan gagal berarti semi-gagal, kurang ideal atau cenderung gagal. Tentu saja gerakan 30 Maret yang digagas oleh Gerakan Mahasiswa Bela Negara nanti akan menjadi babak baru dalam konstelasi politik nasional bila tidak dipolitisir jelang aksi nantinya.

 

Kita ketahui bersama bahwa gerakan mahasiswa memang selalu mengundang banyak perhatian bila kita menoleh kebelakang, namun akhir-akhir ini gerakan mahasiswa sering terinfiltrasi kepentingan sesaat bahkan sesat, contohnya ketika mahasiswa mendemo rumah mantan Presiden SBY. Aksi yang sangat kuat ditunggangi itu berakhir anti-klimaks dan hanya mengotori nama besar kelompok intelektual yang diharapkan masih bersih dari kotornya politik praktis.

Tentunya mahasiswa membutuhkan satu aksi yang berani, jujur, serta bernilai juang tanpa pamrih guna memulihkan kepercayaan rakyat terhadap mereka. Rakyat Indonesia sempat jenuh dengan gerakan yang dibangung mahasiswa setelah melihat, mendengar dan menyaksikan sendiri bagaimana para penggerak perubahan menjadi mafia BUMN, korupsi, bahkan sekarang beberapa orang berada dalam lingkaran kekuasaan untuk mengelabui rakyat, walaupun memang masih banyak yang benar-benar idealis dan kini terasing.

Realitas itulah mengapa rakyat saat ini menganggap tidak ada yang dapat dipercaya, persepsi rakyat terhadap orang atau sekelompok yang mengkritisi pemerintah berganti, mereka menganggap semua kritik menjadi bargaining politik. Puncaknya rakyat mudah mengkonsumsi informasi pembenaran, gerakan moral dianggap bualan sebelum menjabat, gerakan moral hanya dongeng sebelum tidur. Persepsi itu pun kini sudah tertanam di kalangan mahasiswa kebanyakan sehingga aksi-aksi mahasiswa belakangan ini secara kuantitas dan kualitas sangat minim daya gedornya.

Kenyataan itu diperparah dengan berkumpulnya para mantan aktivis gerakan di lingkaran kekuasaan, mereka sangat paham bagaimana membuat sebuah gerakan atau aksi ekstra parlementer menjadi lemah dan anti-klimaks sebelum waktunya. Penggembosan aksi mahasiswa pasti sudah disiapkan dengan rapi apalagi jika aksi yang dilakukan tidak berlandaskan ideologi sebagaimana Aksi 212. Polarisasi gerakan mahasiswa menurut saya sudah lama terjadi, mulai perseteruan lembaga-lembaga kemahasiswaan (internal dan eksternal) hingga persaingan antar kampus yang belakangan malah marak tawuran layaknya siswa/i.

Kondisi objektif lainnya yang memperlemah mahasiswa dalam melakukan gerakan moralnya ialah adanya ancaman dari para senior mereka yang kini ada dilingkaran pemerintahan, selain penggembosan yang dilakukan terhadap setiap kali mahasiswa akan melakukan gerakan/aksi dijalan guna mengkritisi kebijakan pemerintah, belum lagi budaya suap yang dilakukan terhadap para pimpinan aksi maupun lembaga kemahasiswaan.

Lalu apa yang akan terjadi pada Gerakan Mahasiswa 30 Maret mendatang, apakah penggembosan akan terjadi, apakah gerakan itu akan mendapat respon positif dari kalangan mereka sendiri serta rakyat pada umumnya. Tak perlu berharap terlalu besar walaupun tak elok pula kita pesimis, kita percayakan saja pada mereka namun demikian kita semua harus mendukung gerakan moral tersebut. Kita pun sangat berharap Gerakan 30 Maret merupakan gerakan moral ideologis, sebuah gerakan yang pantang disuap, gerakan yang tak takut diancam serta gerakan yang berkelanjutan hingga hajatan terpenuhi.

Bila membaca dasar pemikiran gerakan moral tersebut kita dapati bahwa gerakan ini merupakan gerakan anak pribumi melawan asing yang telah memporak-porandakan segala aspek kehidupan. Menurut mereka asing telah 80 persen menguasai sumber daya alam serta cabang-cabang ekonomi yang harusnya dinikmati warga negara pribumi. Ini kesadaran intelektual yang patut kita apresiasi serta kita dukung dengan penuh kebahagiaan, tentunya kita hargai akan tetapi sebagaimana saya katakan diatas jangan sampai ada penggembosan.

Bila Gerakan 30 Maret adalah awal kebangkitan negeri ini setelah beberapa tahun ini menjadi negara ‘boneka’ dari negara-negara kapitalis yang menghisap SDA kita, tidak ada kata lain yang pantas kita sematkan selain mari dukung namun bila Gerakan 30 Maret merupakan gerakan bargaining politik para elit mahasiswa maka sudah saatnya kita benahi kampus-kampus yang hanya mendidik ‘robot-robot’ materialis oportunis serta pragmatis. [***]

Don Zakiyamani
Penulis adalah Ketua Umum Jaringan Intelektual Muda Islam