Home Berita Komunitas Royatul Islam Layangkan Sikap Atas Penghinaan Panji Rasulullah Oleh Radar Sukabumi

Komunitas Royatul Islam Layangkan Sikap Atas Penghinaan Panji Rasulullah Oleh Radar Sukabumi

0
SHARE

Rakyat Jakarta – Komunitas Royatul Islam yang merupakan komunitas pendaki gunung yang gemar mengibarkan Panji Islam di gunung-gunung Indonesia melayangkan protes keras kepada harian lokal radar Sukabumi.

Komunitas Royatul Islam yang pernah mengibarkan Panji Rasulullah di gunung tertinggi Jawa Barat Ciremai dan Gunung Tertinggi di Jawa Timur Semeru ini melayangkan sikapnya.

Pernyataan tersebut ditulis oleh Ketua Komunitas royatul Islam Tachta Rizqi Yuandri di laman facebooknya pada 9 Mei 2017

*PERNYATAAN SIKAP KOMUNITAS ROYATUL ISLAM TERHADAP GAMBAR PENGHINAAN BENDERA ISLAM (AL LIWA) YANG DIMUAT OLEH HARIAN RADAR SUKABUMI PADA SELASA 9 MEI 2017*

*Bismillaahirrahmaanirrahiim*

Menyikapi Realitas Tersebut, Komunitas Royatul Islam:

1. Menuntut Penyampaian Maaf Dari Harian Radar Sukabumi Terkait Penghinaan Yang Dilakukan Media Massa Tersebut. Penyampaian Maaf Dilakukan Dengan Porsi Yang Sama Baik Dari Posisi Halaman dan Ukuran Gambar Penghinaan Pada Selasa 9 Mei 2017.

2. Menyeru Kepada Seluruh Elemen, Terutama Komunitas Yang Bergerak Di Bidang Hukum, Untuk Melakukan Upaya Hukum Terkait Penghinaan Yang Dilakukan Harian Radar Sukabumi.

3. Menyeru Kepada Pihak Kepolisian Untuk Mengambil Langkah Cepat Dan Melakukan Tindakan Tepat Terhadap Harian Radar Sukabumi Untuk Mencegah Adanya Konflik Horizontal Di Masyarakat. Baik Itu Langkah Hukum Ataupun Langkah Persuasif Terhadap Harian Radar Sukabumi.

4. Menyatakan Dengan Tegas dan Jelas, Bahwa Yang Dilakukan Harian Radar Sukabumi (Yang Menggambar, Yang Mengizinkan, dan Yang Mendukung) Memiliki Konsekuensi Hukum Berupa *KEMATIAN* Dalam Pandangan Islam. Landasan Hukum Terlampir.

5. Tegaknya Khilafah Adalah Janji Allah Dan Hukuman Mati Telah Menunggu Anda Wahai Para Penghina Islam. Kami Mendoakan Semoga Kalian Ditimpakan Siksaan Yang Pedih, Kesusahan Di Dunia dan Kehinaan Di Akhirat, Atau Anda Semua Bertobat.

KamiBersamaHTI
RoyatulIslamHidupSelamanya

*Komunitas Royatul Islam, Selasa 9 Mei 2017 12.50 WIB*

Lampiran Pernyataan Sikap Komunitas Royatul Islam, Penjelasan Poin 4, Berikut Ini Adalah Kutipan Pendapat Ustadz Hafidz Abdurrahman

Penghinaan terhadap Islam bentuknya banyak. Bisa langsung ditujukan kepada Islam seperti: Islam agama barbar; atau menyerang salah satu hukum Islam yangqath’i, seperti potong tangan, rajam, qishâsh dan sebagainya. Bisa pada sumber Islam seperti al-Quran, as-Sunnah dan Ijmak Sahabat. Bisa juga pada simbol-simbol Islam sepertirayah dan liwa’, maupun yang lainnya. Para fukaha, seperti Ibn Qudamah, an-Nawawi, Ibn Taimiyyah, dan Ibn al-‘Arabi memang menyebut hal demikian dengan istilah, “Istihzâ’ bi ad-dîn”.

Konteks istihzâ’ bi ad-dîn (pelecehan terhadap Islam) itu luas. Seperti yang saya sebutkan di atas. Bisa terhadap Islam secara langsung, bisa terhadap sumber Islam, atau simbol-simbolnya. Semuanya termasuk dalam kategori pelecehan terhadap Islam.

Mengeni istihzâ’ bi ad-dîn ini, Ibn Qudamah dalam Al-Mughni (XII/298-299) menyatakan, “Siapa saja yang mencela Allah, baik serius maupun bergurau, jelas kafir. Begitu juga siapa saja yang melecehkan Allah SWT, ayat-ayat-Nya, para utusan-Nya atau kitab-kitab-Nya.”


Imam an-Nawawi rahimahu-Llâh, dalam Rawdhah at-Thâlibîn (X/64), juga menyatakan, “Semua perbuatan yang pasti menyebabkan kufur adalah perbuatan yang lahir, baik dari kesengajaaan atau pelecehan terhadap agama [Islam] dengan nyata.”

Ibn Taimiyyah rahimahu-Llâh, dalam Ash-Shârim al-Maslûl ‘ala Syâtim ar-Rasûl, hlm 370), pun berkata, “Pelecehan dengan hati, dan menyatakan [Nabi] kurang bertentangan dengan keimanan yang ada dalam hati. Bertolak belakang dengan apa yang menjadi kebalikannya. Adapun pelecehan dengan lisan juga bertentangan dengan keimanan yang tampak dengan lisan.”

Berdasarkan penjelasan para fukaha di atas, jawabannya jelas. Jika pelakunya Muslim, maka dia dianggap murtad, dan dinyatakan kafir. Kepada dia bisa diberlakukan sanksi riddah.

Jika dia non-Muslim yang menjadi ahludz-dzimmah, dia bisa dicabut dzimmah-nya; bisa juga dihukum atau diusir dari wilayah Islam. Jika bukan ahludz-dzimmah, ini bisa dijadikan Khilafah sebagai alasan perang terhadap negara yang bersangkutan. Apalagi jika pelakunya negara, jelas Khilafah tidak akan tinggal diam terhadap pelecehan ini. Inilah yang dilakukan oleh Khalifah Al-Mu’tashim, Harun ar-Rasyid hingga Sultan ‘Abdul Hamid II dalam membela kemuliaan Islam dan kaum Muslim.

Jika pelakunya Muslim, jelas dinyatakan murtad. Karena itu sanksinya adalah dibunuh, sebagaimana had ar-riddah. Jika pelakunya non-Muslim, dan berstatus ahludz-dzimmah, dia bisa dicabutdzimmah-nya; bisa dihukum, atau diusir dari wilayah Islam. Jika bukan ahludz-dzimmah, ini bisa dijadikan Khilafah sebagai alasan perang terhadap negara yang bersangkutan.

Dengan sistem seperti ini jelas tidak bisa. Pertama: Karena rezim yang ada jelas tidak melihat agama sebagai sesuatu yang penting, apalagi harus mempertaruhkan hidup-mati. Kedua: Penguasa kaum Muslim saat ini, semuanya adalah boneka dan antek penjajah. Karena itu berharap kepada mereka untuk melindungi Islam dan umatnya, jelas sulit. Ketiga: Kalau pun mereka bertindak, faktor utamanya bukan karena pembelaan terhadap Islam, tetapi karena kepentingan. Inilah yang menjadi alasan, mengapa susah berharap para rezim seperti ini.

Pengibaran Panji Rasulullah  oleh Komunitas Royatul Islam