Home Berita Kisah Hary Tanoe Singkirkan Bambang Tri, Anak Soeharto Dari “RCTI” Dan “Bimantara”

Kisah Hary Tanoe Singkirkan Bambang Tri, Anak Soeharto Dari “RCTI” Dan “Bimantara”

0
SHARE

KETIKA sedang bertugas sebagai Wakil Pemimpin Umum & Wakil Pemimpin Redaksi majalah “Vista”, Surya Paloh selaku penerbit menugaskan saya untuk merangkap mengelolah majalah internal PT Bimantara Citra.Nama media belum ada, kecuali visi dan misi.

Selain visi dan misi Bimantara, saya harus mengamankan misi dan posisi Surya Paloh sebagai orang pers.

Misi pengusaha asal Aceh yang besar di Medan, Sumatera Utara itu, hanya satu. Jangan sampai “Vista”, ditutup atau dicabut izinnya oleh Menteri Penerangan Harmoko.

“Kalau majalah ini ditutup Harmoko, harta kita tinggal celana dalam”, ujar Surya Paloh sembari mengingatkan resiko yang kami alami atas pembredelan harian “Prioritas” Juni 1987.

Situasi pers dan demokrasi 30 tahun lalu sangat berbeda dengan sekarang. Setiap media cetak harus punya izin terbit dari Departemen Penerangan.

Nasib sebuah media bukan ditentukan oleh keberhasilan bisnisnya. Tetapi juga ditentukan oleh faktor suka dan tidak suka penguasa.

Personifikasi penguasa pada waktu itu melekat pada diri Menteri Penerangan Harmoko.

Memang ironis, Harmoko yang berlatar belakang wartawan –  dari harian “Merdeka” kemudian mendirikan “Pos Kota” tapi sikapnya terhadap wartawan seperti “hostile”.

Sebelum diangkat jadi Menteri Penerangan, dia menjabat Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Sebaliknya oleh sementara wartawan dia justru dikenal sebagai perusak karir dan masa depan wartawan Indonesia.

Harmoko dianggap antagonistis. Sekaligus sebagai eksekutor yang mematikan media-media yang tidak dia sukai. Atau yang tidak “friendly” dengannya.  Ini critera di zaman Orde Baru.

Sebagai pengingat, selain “Prioritas” media cetak yang pernah dicabit izinnya oleh Harmoko adalah “Sinar Harapan”, “Tempo”, “Editor” dan “Detak”.

Surya Paloh ketika itu sebagai penerbit, sudah masuk dalam daftar hitam Menteri Penerangan tersebut.

Nah Bambang Tri, sebagai anak Presiden Soeharto, hendak dijadikan oleh Surya Paloh sebagai “bemper” atau penghalang bagi Menteri Harmoko yang punya rencana tidak baik atas dirinya.

Bambang Tri yang juga aktif di FKPPI (Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan ABRI) dirangkul Surya Paloh. Di mata pendiri FKPPI ini, Bambang Tri merupakan anak penguasa yang elegan.

Selain itu, Bambang Tri yang suka melempar senyum kepada siapapun yang bersapa dengannya, cukup berwibawa.

Sebagai pengusaha, Bambang Tri juga dianggap Surya Paloh sebagai pebisnis bersih dan memiliki banyak agenda positif bagi pembangunan bangsa.

Salah satu sikap yang membuat Surya Paloh luluh dan terus memuji-muji Bambang Tri adalah bahwa Bambang tidak pernah menunjukkan sikap arogan. Apalagi menunjukkan sikap sebagai anak seorang penguasa yang paling berkuasa.

Kewibawaan, sikap simpatik dan faktor bersih itulah yang diperhitungkan Surya Paloh sebagai sebuah kekuatan.

Dengan begitu, Surya Paloh juga bersahabat dengan anak Presiden yang memiliki kekuatan.

Surya beranggapan kalau Bambang minta bapaknya yakni Presiden Soeharto untuk membela “Vista”, pembelaan itu dengan mudah keluar dari Pemimpin Orde Baru tersebut.

Dan pembelaan seorang Soeharto terhadap “Vista” memiliki makna yang sangat luas bagi Surya Paloh.

Kekhawatiran Surya Paloh sebetulnya menjadi kekhawatiran saya juga. Tapi kekhawatiran saya lebih kepada apakah saya mampu menerjemahkan visi dan misi Bimantara Citra?

Apakah media internal cukup bisa dijadikan andalan untuk alat komunikasi yang efektif dengan pihak masyarakat?

Apalagi di kalangan masyarakat ketika itu, sedang muncul semacam penolakan secara diam-diam terhadap Bimantara.

Hal ini tercermin dari surat-surat kaleng yang menyebutkan bahwa PT Bimantara Citra merupakan bagian dari usaha Keluarga Cendana (Presiden Soeharto) untuk memonopoli semua bisnis di Indonesia.

“Bimantara itu kan singkatan dari Bambang Ingin Menguasai Nusantara….”, bunyi sebuah surat tanpa nama yang dikirim ke “Vista”.

Itu sebabnya setelah membuat dummy “Warta Bimantara”, saya minta kepada Direksi Bimantara untuk membrief tentang apa yang menjadi visi dan misi Bimantara Citra.

Cukup beruntung sebab permintaan tersebut dipenuhi oleh semua direksi. Mulai dari Peter F. Gontha, Rosano Barack, sampai dengan Muhamad Tachril alias Aling.

Briefing dari para direksi di atas, sangat membantu dan memberi banyak pembelajaran. Boleh jadi karena para Direksi memiliki wawasan yang cukup lengkap sekalipun berbeda-beda pakem.

Peter Gontha (sejak 2015 menjadi Dubes RI di Polandia), dikenal sebagai seorang profesional yang berpengalaman luas di American Express Bank dan Citibank. Dua-duanya perusahaan Amerika. Saat itu Amerika masih menjadi rujukan dari hampir semua keunggulan.

Rosano Barack yang lulusan Jepang dan ibunya seorang wanita asli Jepang, merupakan anak keluarga berada. Jaringannya dengan pengusaha dan penguasa Jepang, cukup luas.

Kemudian Aling, yang ayahnya bekas Wakil Gubernur DKI.

Budaya bisnis Amerika (dari Peter) digabung dengan gaya Jepang (dari Chano atau Rosano) bertemu dengan gaya Betawi (Aling).

Sorry asumsi di atas hanya penafsiran saya semata.

Walaupun Bambang Tri selaku Presiden Direktur maupun Indra Rukmana (suaminya Mba Tutut) sebagai Presiden Komisaris tidak pernah membrief saya, tetapi banyaklah pemahaman positif saya tentang visi dan misi Bimantara Citra. Karena yang tidak saya dapatkan dari mereka berdua sudah diisi oleh Peter, Chano dan Aling.

Misalnya memberikan beasiswa sebanyak mungkin kepada para mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi – dengan memulai dari universitas yang dikenal dengan sebutan “Center of Excellences”.

Pembuatan mobil “Made In Indonesia” yang disponsori Bimantara.

Salah satu yang paling berkesan adalah proyek pembuatan plastik.

Oleh sebuah panel, saya diberi penjelasan tentang “Pohon Kimia” atau “Chemical Tree”.

Intinya Bimantara mau membangun pabrik plastik, sehingga semua kebutuhan plastik di dalam negeri bisa dipenuhi.

Gagasan ini muncul, sebab komponen terbesar yang diimpor Indonesia sebetulnya berada pada komoditi plastik. Devisa yang terbuang untuk membeli plastik dari luar, menduduki prosentasi yang sangat besar dari total impor.

Mengapa demikian, sebab ternyata kehidupan manusia di abad modern, sangat bergantung pada bahan-bahan plastik. Mulai dari piring dan gelas yang kita gunakan sehari-hari kemudian komponen-komponen yang ada dalam rumah kita tinggali seperti kasur, kaca, tempat mandi dan kendaraan tentunya, semua memiliki kandungan plastik.

Selama ini semua kebutuhan atau impor plastik itu didatangkan dari Jepang.  Negeri matahari  ini sendiri, keberhasilannya menjadi sebuah negara industri disebut-sebut antara lain karena Jepang tidak hanya memproduksi plastik untuk kebutuhan sendiri tapi menjadi penyedia plastik bagi konsumen dunia.

Proyek perusahan plastik akhirnya tidak berhasil diwujudkan oleh Bimantara. Sebagai gantinya gagasan itu diteruskan oleh PT Chandra Asri yang saat ini dimiliki oleh Prajogo Pangestu.

Setelah beberapa edisi “Warta Bimantara” saya mengajukan permintaan untuk melakukan wawancara khusus dengan Bambang Tri.

Tujuan utamanya untuk memberi pembobotan pada penerbitan media internal Bimantara Citra tersebut. Supaya para karyawan Bimantara dan anggota grup yang saat itu sudah mencapai 6.000 staf, bisa memahami visi dan misi para pendiri.

Selain itu untuk mengukur apakah Bambang Tri puas dengan produk yang saya kerjakan bersama dua wartawan “Vista” yakni Adolf Posumah dan Agus Guna Diatmika.

Sambil menunggu jawaban, saya konsepkan sebuah draft wawancara berbentuk: Tanya – Jawab.

Saya memposisikan diri sebagai warga yang tidak suka kepada Bimantara. Tetapi jawabanya pun saya buat sendiri berdasarkan visi dan misi yang sudah saya peroleh dari para direksi.

Hasilnya mengejutkan. Draft Tanya Jawab itu disetujui oleh Bambang Tri kemudian dipublikasikan di “Warta Bimantara”.

Sejak itu saya melihat Bambang Tri merupakan sosok yang mengerti dengan apa yang jadi sorotan publik terhadap Bimantara. Termasuk sorotan masyarakat terhadapnya sebagai anggota keluarga pemimpin Orde Baru. Dimana stigmanya cukup banyak yang negatif.

Jawaban yang saya susun sendiri dan sejatinya mencerminkan apa yang saya lihat dan rasakan, tak satupun yang dia coret.

Jadilah wawancara itu sebagai sebuah ungkapan yang berkategori “master piece” di era represif.

Media “Warta Bimantara” itu sendiri sempat menjadi salah satu rujukan oleh media-media ibukota, manakala mau mengikuti perkembangan bisnis nasional.

Sebab di masa jayanya, PT Bimantara Citra sebagai perusahaan induk (holding), hampir setiap hari melakukan kegiatan yang memiliki nilai berita.

Di tahun 1989 misalnya, rata-rata setiap hari terlaksana sebuah kesepakatan bisnis dengan mitra usaha yang ada.

Saking seringnya diberitakan ada pemegang saham Bimantara Citra yang menanda tangani akte baru, disebutkan bahwa anggota grup perusahaan Bimantara, sedikitnya sudah mencapai 300 buah.

Ini sama dengan sebuah konglomerasi terbesar, mengalahkan Salim Group, pimpinan Liem Sioe Liong atau puteranya Anthony Salim.

Sebagai jurnalis produk Orde Baru, saya cukup kagum dengan kiprah Bimantara Citra dengan Bambang Tri sebagai Presiden Direkturnya.

Karena kesibukan masing-masing, sejak lepas dari tugas mendirikan “Warta Bimantara”, praktis saya hanya tiga kali berkomunikasi dengan Bambang Tri.

Pertama ketika Bambang minta saya melalui Jongkie Sugiarto (Presiden Direktur Hyundai saat ini) untuk menjadi “Media Officer” bagi kejuaraan dunia menembak di Bali. Bambang Tri dikenal sebagai penembak aktif dan anggota Perbakin.

Kedua, di tahun 2003, pemberitaan RCTI membuat blunder. Sebuah video yang berisikan materi yang dipersiapkan redaksi, kalau Pak Harto sebagai mantan Presiden, meninggal dunia, tertayangkan.

Penayangan itu menimbulkan heboh dan menempatkan saya sebagai Pemimpin Redaksi terpojok dan disalahkan.

Soalnya isu siaran itu berisikan materi yang seolah-olah Pak Harto, Presiden ke-2 RI, baru saja meninggal dunia. Padahal Pak Harto sedang dalam keadaan sehat walafiat.

Ketika itu Hary Tanoe sebagai pemilik atas saham mayoritas RCTI, baru saja merekrut saya sebagai Pemimpin Redaksi.

Dengan rasa malu dan bersalah, saya temui Bambang Trihatmodjo. Pertemuan difasilitasi oleh Jongkie Sugiarto, orang kepercayaannya yang selama bertahun-tahun menjadi mekanik semua mobil Mercedes yang digunakan Presiden Soeharto.

Begitu duduk dan bertatap muka dengan Bambang Tri, saya langsung minta maaf atas keleliruan penayangan itu. Dan mendoakan supaya Pak Harto panjang umur.

Jawaban Bambang Tri singkat, serta tulus memaafkan saya. Dia hanya berpesan supaya lebih berhati-hati dalam memimpin pemberitaan di televisi swasta tersebut.

Setahun kemudian (2004) saya dipanggil untuk dimintai masukan, bagaimana reaksi dan suasana di RCTI Kebon Jeruk, setelah manajemen baru pimpinan Hary Tanoe tidak memberikan bonus sebagaimana biasanya.

Yang saya tandai, saat itu posisi Bambang Tri sepertinya sudah melemah dan terus melemah.

Saya berhenti dari RCTI Agustus 2005. Saat itu menurut Jongkie Sugiarto, Hary Tanoe sudah menguasai seluruh saham.

“Mengapa Mas Bambang menjualnya ke Hary Tanoe?” bertanya saya kepada Jongkie Sugiarto.

Jongkie hanya berucap singkat: “Ceritanya panjang Derek. Kamu datang ke kantorku, nanti aku ceritain semuanya”.

Tahun 2010, saya baru bisa datang ke kantor Jongkie Sugiarto. Ceritanya cukup mengejutkan.

Tapi untuk sementara, dalam kesempatan ini isinya saya sebut saja dulu “Loud and Clear”. [***]

Penulis adalah wartawan senior