Home Berita Kapolda NTB: Revolusi Mental yang Benar Harus Dimulai Dari Sholat Berjamaah Awal...

Kapolda NTB: Revolusi Mental yang Benar Harus Dimulai Dari Sholat Berjamaah Awal Waktu

0
SHARE

Rakyat Jakarta – Sejak dimulainya masa pemeritahan Presiden Joko Widodo, sering mendengar ungkapan “revolusi mental”. Bahkan jargon ini digaungkannya sejak masa kampanye saat pemilihan presiden beberapa waktu yang lalu. Seluruh jajaran pemerintahan kini-pun menggunakan ungkapan ini sebagai quote atau kalimat motivasi yang bertujuan untuk pembenahan yang terpampang pada spanduk-spanduk atau tema-tema sebuah kegiatan yang dilaksanakan.

Di Polda NTB sendiri, kalimat ini juga merupakan sebuah jargon utama bagi Polri untuk berbenah. Namun dibawah kepemimpinan Kapolda NTB saat ini, Brigjen Pol Drs, Umar Septono SH, MH, kalimat ini memiliki makna yang jauh lebih mendalam. Revolusi mental berarti mengharuskan setiap polisi yang ada dibawah garis komando Polda NTB untuk mulai membenahi ibadah mereka terutama solat di awal waktu bagi personil yang beragama Islam, sedangkan bagi yang beragama lain tentu saja menyesuaikan dengan ajarannya masing-masing.

Menurut Kapolda, revolusi mental harus dimulai dari solat di awal waktu, memenuhi panggilanNya tanpa menunda-nunda atau mengenal hambatan oleh sesuatu dan siapapun. “kalau dipanggil oleh Tuhan saja kita masih sering menunda tanpa alasan yang dibolehkan, bagaimana mungkin kita bisa membenahi mental kita untuk mau berbuat dan melayani kepada sesama manusia?” ujar Brigjen Pol Drs, Umar Septono.

Bahkan dalam sebuah ungkapan yang pernah disampaikan kepada para anggotanya, jenderal bintang satu ini dengan tegas mengatakan untuk jangan pernah mengambil hak-hak Allah. Yang dimaksud dengan hak Allah tersebut salah satunya adalah waktu yang memang semestinya adalah merupakan milikNya, terutama saat adzan telah tiba.

“Ketika adzan sudah dikumandangkan, maka hendaklah kita menghentikan segala aktifitas duniawi untuk segera memenuhi panggilannya, karena tujuan utama penciptaan manusia adalah ibadah” kata Kapolda.

Dalam konsep pikiran sang jenderal, revolusi mental bukanlah hanya merupakan selogan yang kemudian itu ditempel pada spanduk himbauan ataupun tema kegiatan semata, namun harus lebih kepada aspek implementasi, sehingga memang dapat berpengaruh langsung di dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya harus menjadi contoh bagi bawahan saya dalam segala hal, jadi saya maknai betul ibadah sebagai motivasi tertinggi setiap anggota saya untuk berbuat dan melayani masyarakat dengan sepenuh hati” lanjutnya.

Ikhlas adalah perumpamaan yang paling tepat untuk menggambarkan ungkapan Kapolda tersebut. Sehingga apapun yang dilakukan dan hasil yang dicapai, segalanya dipasrahkan kepada Tuhan, tanpa mengharapkan imbalan atau pujian dari manusia.

Sebetulnya sederhana, tambah Kapolda, Hal paling pertama yang akan diperiksa nanti disaat manusia sudah mati adalah solat, jadi itulah yang seharusnya lebih pertama dan utama diperbaiki.

“Sudah jelas, solat itu mencegah daripada perbuatan mungkar dan merupakan amalan yang paling pertama diperiksa selain disitu ada latihan kedisiplinan waktu dan loyalitas serta kepatuhan dalam melaksanakan perintahNya. Jadi kalau mau merevolusi mental, maka hendaklah dimulai dengan membenahi solat yang dilakukan pada awal waktu” pungkasnya. [knt]