Home Berita Jejak Ansor: Dulu Tolak Pembubaran Tokoh Lesbi Irshad Manji, Sekarang Setuju Bubarkan...

Jejak Ansor: Dulu Tolak Pembubaran Tokoh Lesbi Irshad Manji, Sekarang Setuju Bubarkan Felix Siauw HTI

0
SHARE

Rakyat Jakarta – Ustadz Felix Siauw, seorang mualaf keturunan Tionghoa, beberapa mendapat penolakan dan pembubaran dari pihak Ansor. Padahal itu acara pengajian/kajian keislaman.

Seperti di Sragen 17 Juli kemarin. Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sragen menolak kedatangan dai Felix Siauw yang rencananya akan mengisi ceramah di Masjid Al Falah Sragen.
GP Ansor Sragen Tolak Kedatangan Felix Siauw
Ketua GP Ansor Kabupaten Sragen Indro Supriyadi menegaskan, GP Ansor bersama elemen santri se-Kabupaten Sragen menolak keras kehadiraan Felix Siauw lantaran dikhawatirkan memicu ketegangan antar umat muslim di Sragen.
Sebelumnya di kota Malang pada 30 April.
Ini Alasan GP Ansor Malang Menolak Talk Show Ustaz Felix Siauw
Ketua PC GP Ansor NU Kota Malang, HM Nur Junaedi Amin mengatakan, GP Ansor menolak digelarnya acara yang diisi oleh Ustad Felix Siauw pada Ahad (30/4), kemarin. Junaedi mengklaim penolakan demi menjaga keutuhan Pancasila sebagai dasar negara dan menjaga persatuan masyarakat.
Atas penolakan dan pembubaran pengajiannya tsb, ustadz Felix yang menjadi mualaf sejak 2002 ini mengatakan:
“Memang ormas satu ini, dan beberapa afiliasinya sekarang getol menjadi satu-satunya mufassir penguasa dan negara, yang punya cap siapa yang pancasilais dan siapa yang tidak,” katanya dalam unggahan halaman akun Facebooknya.
PADAHAL…. di sisi lain, ANSOR getol membela pihak yang justru oleh Umat Islam ditentang, seperti Tokoh Lesbian Irshad Manji.
Anshor Tak Setuju Gagasan Irshad Manji, Tapi Tak Tutup Diskusi
[detikcom] GP Anshor menyesalkan pembatalan diskusi Irshad Manji di UGM menyusul penolakan sejumlah ormas. Semestinya perbedaan tidak disikapi dengan kekerasan, tetapi didiskusikan.
“Kalau bicara tidak setuju dengan gagasannya Irshad Manji, GP Ansor juga banyak tidak setuju dengan gagasan dan pemikiran tersebut. Tapi bukan berarti menutup pintu diskusi. Kalau mendiskusikan masalah yang kita tidak setujui saja sudah tidak boleh, apalagi di kampus, ini namanya fasisme,” kata Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid, Rabu (9/5/2012).
Karena itu pembatalan diskusi di UGM, semestinya tidak terjadi. UGM sejak dahulu dikenal sebagai kampus pencerahan dan kebebasan berpikir.
“Kampus tempat untuk mendesiminasi gagasan secara ilmiah, lepas soal benar atau salah. Sesuai atau tidak sesuai,” ujarnya.
Negara Indonesia adalah negara yang mengagungkan kebebasan berpikir dan menghargai pemikiran.
Kalau ada pihak yang khawatir terhadap masa depan bangsa Indonesia dengan cara menolak diskusi, itu hanya kekhawatiran berlebihan.
“Mana ada negara akan maju, kalau menutup diskusi hanya karena kita tidak setuju dengan isi pendapat orang. Kalau nggak setuju ya nggak usah ikut, atau nggak usah gabung diskusi. Tapi jangan melarang orang untuk berdiskusi,” ujarnya.
COBA omongan si NUSRON kita bedah lagi dan terapkan pada kasus ust Felix Siauw:
“Mana ada negara akan maju, kalau menutup diskusi hanya karena kita tidak setuju dengan isi pendapat orang. Kalau nggak setuju ya nggak usah ikut, atau nggak usah gabung diskusi. Tapi jangan melarang orang untuk berdiskusi.”
KALAU GAK SETUJU GAK USAH IKUT
TAPI JANGAN MELARANG
NAH LOH… KENAPA KAJIAN UST FELIX SIAUW DILARANG? KALO GAK SETUJU GAK USAH IKUT. GITU AJA KOK REPOT. [pi]