Home Berita Habib Rizieq dalam Bayang-bayang Hoax & Target Operasi, Mental & Semangat Perjuangan...

Habib Rizieq dalam Bayang-bayang Hoax & Target Operasi, Mental & Semangat Perjuangan Umat Tengah Diruntuhkan

0
SHARE

PEKAN-pekan terakhir ini, umat Islam dibikin resah. Mereka dibuat gusar dan tak tenang. Penyebabnya, apalagi kalau bukan informasi palsu alias hoax yang sengaja ditebar untuk memojokkan umat Islam, terutama para tetua alias tokoh-tokohnya.

Teranyar, adalah apa yang menimpa Habib Rizieq Shihab (HRS). Imam besar Front Pembela Islam itu dipermalukan secara luar biasa. Ia dikabarkan berbuat mesum dengan Firza Husein (FH). Melalui berbagai media online, termasuk jejaring youtube, perbincangan yang di-screenshot antara HRS dengan FH diviralkan secara massif.

Tapi secerdik-cerdiknya kebohongan diciptakan, ia tercium juga. Fitnah mesum yang menimpa HRS dianggap tak lebih dari sekadar hoax yang sengaja dibuat untuk meruntuhkan moral perjuangan umat Islam.

Dalam konteks ini, imbas hoax tersebut bukan hanya HRS secara personal, melainkan juga umat Islam. Kenapa? Karena simbol perjuangan umat salah satunya terpatri dalam diri HRS.

Umat Islam “direkayasa” sedemikian rupa dan dituduh sebagai pemicu dan peletak perpecahan bangsa. Tuduhan anti-Pancasila, anti-Bhinneka Tungga Ika, hingga “ideologi tertutup” seperti dilancarkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dialamatkan pada Islam. Islam seolah-olah sudah “divonis” sebagai “musuh bangsa”.

Padahal jika kita cermati, apa yang terjadi dengan gerakan umat Islam dalam lima bulan terakhir, tuduhan-tuduhan itu jauh panggang dari api. Tuduhan itu hanya semacam phobia belaka.

Saya sendiri begitu yakin jika menyangkut penghargaan terhadap pluralitas (kemajemukan), umat Islam masih layak ditempatkan sebagai avant garde. Apa yang dilakukan umat Islam bukanlah anti-Cina, anti-Kristen, atau agama tertentu. Dalam konteks Aksi Bela Islam, umat Islam hanya berupaya menghidupkan Pancasila dan kebhinnekaan dengan menuntut keadilan terhadap penista agama, Basuki T Purnama (Ahok).

Lalu, kenapa malah Islam disudutkan sedemikian jauh, bahkan hingga tokoh-tokohnya berusaha dipojokkan dengan berbagai kasus hukum? Akankah umat Islam “mati” di tengah jalan diterpa badai “hasil ciptaan” orang-orang yang tidak suka mereka? Apakah upaya melumpuhkan moralitas perjuangan, yang di antaranya dengan memisahkan gerakan umat dengan menjadikan satu per satu dari aktor pergerakan sebagai tersangka, dan melancarkan fitnah keji pada mereka, akan menyurutkan langkah umat Islam?

Siapa “Menikmati” Hoax?

Secara prinsip, siapapun pada dasarnya adalah anti-kabar bohong alias hoax. Mau dia penguasa, pengusaha, aktivis, petani, bahkan hingga tukang becak.

Tapi seiring perjalanan waktu, perlu diakui, jika sebagian dari kita sudah mulai “menikmati” hoax. Apalagi jika hoax itu sesuai dengan kepentingan kita, maka kita merasa terbantu dengan hoax.

Siapa kelompok yang menikmati tersebut? Tentu ia tak bisa diidentifikasi satu persatu. Di dalamnya boleh jadi berkumpul semua kelompok yang punya kepentingan, termasuk bahkan penguasa.

Ini yang disinyalir pakar politik Rocky Gerung beberapa waktu lalu. Bahkan ia menyebut bahwa hoax yang diproduksi penguasa akan sangat berbahaya. Sebab dalam waktu sekejap mata, kabar hoax akan dianggap sebagai kebenaran dan dijadikan dalih untuk justifikasi kehendak penguasa.

Jika penguasa yang mengendalikan hoax, maka akan sangat merugikan para ulama, aktivis, dan kelompok-kelompok kritis yang masih menjaga nuraninya membangun bangsa ini. Mereka dengan segera akan dituduh dengan berbagai kasus dan dicarikan pasal yang memungkinkan mereka dijebloskan ke balik jeruji besi.

HRS, Target Man?

HRS menjadi salah satu tokoh yang paling populer dalam setengah tahun terakhir. Perjuangannya memimpin Aksi Bela Islam I, II, dan III (juga dikenal dengan Aksi 1410, 411, dan 212), menjadikannya sebagai sosok yang disegani kawan maupun lawan. Berkat kesuksesannya ini, ormas berbasis masyarakat Tionghoa yakni Muslim Tionghoa Indonesia (MUSTI) dan Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KomTak) menobatkan HRS sebagai “Man Of The Year 2016” atau “Tokoh Indonesia 2016”.

Hanya saja, dengan semua kesuksesan itu, HRS tentu tidak boleh berpuas diri. HRS harus sadar bahwa di antara banyaknya kelompok yang memuji, juga tidak sedikit kelompok yang membenci, bahkan mencaci. Bukan dari kelompok non-muslim saja, sebagian dari kelompok Islam sendiri, yang masih banyak kurang “sreg” terhadap HRS. Dalih kebencian mereka bermacam-macam. Mulai dari tuduhan FPI sebagai organisasi berjubah preman, organisasi radikal, dan sejenisnya (boleh jadi tuduhan ini muncul karena mereka melihat hanya “wajah FPI” saat melakukan aksi sweeping. Mereka tidak melihat FPI ketika melakukan aksi-aksi kemanusiaan yang nyaris luput dari sorot kamera wartawan), hingga kekhawatiran HRS akan meng-Islamkan Indonesia.

Tentu kemudian ia menjadi debatable, dan perdebatan seputar HRS dan FPI ini terus berlangsung di dunia nyata atau dunia maya. Untuk meredakan perdebatan, saya sendiri pernah berseloroh, “Nabi saja yang sebaik itu masih banyak musuh yang membencinya, apalagi hanya seorang Habib Rizieq.”

Adanya kelompok kontra HRS dan kelompok kritis ini sejalan dengan banyaknya sinyalemen yang menunjukkan jika HRS menjadi “target man” atau target operasi dalam beberapa bulan terakhir. HRS ditargetkan bisa lumpuh dengan tuduhan berbagai kasus hukum.

Salah satu yang kemudian menguatkan anggapan ini adalah ketika 80 personel Brimob Polda Jawa Barat melakukan latihan di daerah pegunungan Megamendung, Bogor, yang merupakan kawasan pondok pesantren milik HRS. Untungnya, HRS tidak panik dengan teror ini. Alih-alih panik, HRS justru bekerjasama dengan GNPF MUI, Tim Mer-C, RS. Budhi Kemuliaan Jakarta dan RS Ummi, Bogor, menenangkan warga daerah tersebut yang panik, HRS dkk membagikan beras, alat shalat dan memotong dua ekor sapi untuk dibagikan kepada 1000 KK tidak mampu di Kampung Lemah Neundeut, Desa Suka Galih dan Kampung Babakan Pekancilan, Desa Kuta, Kecamatan Mega Mendung, Bogor. HRS membalas teror polisi dengan cinta.

Selain itu, HRS kini dilaporkan dengan berbagai kasus ke aparat kepolisian, meskipun sebagian dari kasus tersebut sudah terjadi beberapa tahun lalu. Misalnya kasus penodaan lambang dan dasar negara Pancasila, yang dilaporkan Sukmawati Soekarnoputri; ada juga kasus pernyataan tentang logo palu arit pada mata uang baru; tuduhan kasus penistaan agama agama Kristen yang dilaporkan Pimpinan Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP-PMKRI); laporan atas tuduhan menghina jenderal polisi dan hansip; dan terakhir laporan terkait perbincangan mesum dalam chat WhatsApp antara HRS dengan FH.

Ini semua merupakan kasus-kasus yang kini tengah menimpa HRS. Bahkan dalam kasus terakhir, polisi langsung bergerak cepat dengan menyita seprai, bantal, dan TV di rumah FH. Sampai sebegitukah kepolisian? Bahkan berdasarkan keterangan dari Kuasa Hukum Firza Husein, Azis Januar menyebut jika kliennya ditekan dan diintimidasi oleh pihak kepolisian. Firza dipaksa mengakui sosok dalam konten yang bernuansa pornografi tersebut adalah dirinya.

Azis pun mengaku aneh. Pasalnya FH yang diperiksa terkait kasus dugaan makar, justru disudutkan dengan pertanyaan-pertanyaan terkait skandal itu. Dari 20 pertanyaan polisi, sembilan di antaranya berkaitan dengan HRS. Apakah ini upaya polisi untuk menghancurkan wibawa HRS di mata umat Islam, terutama para pengikutnya? Bukankah chat di WhatsAppa itu belum diketahui kebenarannya dan boleh jadi merupakan hoax? Mungkinkah itu contoh hoax by desain. Bukankah belakangan ini, begitu tipis sekali antara informasi faktuil dan imajiner, dan kabar benar dan salah begitu sulit diterka?

Terlepas benar tidaknya chat WA tersebut, sulit dibantah jika mental dan semangat perjuangan umat Islam tengah diruntuhkan. Pemeriksaan tokoh-tokoh Islam, mulai dari Juru Bicara FPI Munarman dan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) Bachtiar Nasir menguatkan asumsi tersebut.

Oleh karenanya, sebagai penutup, saya tertarik untuk mengutip dua hadits Nabi dan satu pernyataan Imam Syafi’i (Rahimahullah) tentang kondisi Islam di akhir zaman. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, Sesungguhnya Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka thuuba (beruntunglah) orang-orang yang asing” (HR Muslim).

Hadits lainnya, adalah sebuah hadits dari Sahl bin Saad as-Sa ‘idi r.a. Beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda “Ya Allah! Janganlah Engkau menemukan aku dan mudah-mudahan kamu juga tidak bertemu dengan suatu zaman di mana para ulama sudah tidak diikuti lagi, dan orang yang penyantun sudah tidak dihiraukan lagi. Hati mereka seperti hati orang Ajam, lidah mereka seperti lidah orang Arab” (HR Ahmad)

Imam Syafi’i (Rahimahullah) pernah ditanya oleh salah satu muridnya tentang bagaimana caranya kita mengetahui pengikut kebenaran di akhir zaman yang penuh fitnah? Imam Syafi’i menjawab, “Perhatikanlah panah-panah musuh (ditujukan kepada siapa) maka akan menunjukimu siapa pengikut kebenaran”.

Oleh: Moh. Ilyas
Penulis adalah alumnus Pascasarjana Politik UI