Home Berita Framing Media yang Gagal: Maksud Hati Giring Opini “Tanpa si Penista Jakarta...

Framing Media yang Gagal: Maksud Hati Giring Opini “Tanpa si Penista Jakarta Semerawut”, yang Terjadi Malah Seperti ini

0
SHARE

Framing Media yang Gagal di Ujung Kepemimpinan yang Gagal.

“Kalijodo kembali dikuasai preman, Mesin parkir pun raib”

Link: http://www.tribunnews.com/metropolitan/2017/04/24/kalijodo-kembali-dikuasai-preman-mesin-parkir-raib

Maksud hati ingin memframing opini masyarakat bahwa tanpa kepemimpinan si penista agama, maka Jakarta kembali semrawut. Sayangnya, framing ini terlalu prematur. Gubernur baru belum bekerja. Bahkan, pelantikannya saja masih 6 bulan ke depan. Artinya, kembalinya premanisme di Kalijodo misalnya seperti diberitakan, masih dalam kewajiban dan tanggung jawab gubernur yg sekarang.

Di sisi lainnya, framing ini justru menguatkan kecurigaan bahwa akan ada skenario dan rekayasa kejadian premanisme pasca lengsernya gubernur petahana sang penista agama. Akan ada segala macam daya dan upaya untuk mengganggu stabilitas daerah dan juga program pembangunannya.

Curigai munculnya tagihan janji kampanye yg juga prematur. Curigai negosiasi seorang Menteri tentang reklamasi yg juga prematur. Curigai semua yg datangnya prematur dah tiba-tiba. Kita sedang berada di sebuah kondisi yg serba terbalik sebagaimana digambarkan oleh filusuf terkenal dari Bikini Bottom University, Sponge Bob SquarePant.

lbaratnya begini, ada seorang preman kemudian diangkat menjadi petugas keamanan di sebuah komplek perumahan. Kemudian dia berseloroh, “Sejak saya menjadi petugas keamanan, komplek perumahan ini aman. Entah kalau nanti saya diberhentikan.”

Dari seloroh petugas keamanan di atas, siapakah sebetulnya yg menyebabkan kondisi tidak aman di komplek perumahan itu sebelumnya? Dan siapakah tersangka kondisi tidak aman di saat yg akan datang? Kita sudah tahu bersama jawabannya, kan?

Wa makaru wamakarallahu Wallahu khairul makirin.

Oleh Azzam Mujahid Izzulhaq