Home Berita Film “Kau adalah Aku Yang Lain” Berpotensi Memukul Toleransi Yang Sudah Terbangun

Film “Kau adalah Aku Yang Lain” Berpotensi Memukul Toleransi Yang Sudah Terbangun

0
SHARE

Rakyat Jakarta – FILM “Kau adalah Aku yang Lain” tentu merupakan karya sineas Tanah Air yang patut di apresiasi. Begitu juga dengan Polri yang mengadakan acara Police Movie Festival tersebut.

Acara ini dapat menjadi sarana masyarakat untuk mengekspresikan kegelisahannya mengenai kondisi sosial-politik yang tengah terjadi, khususnya dalam bentuk karya film.

Maksud awal dibuatnya film Kau adalah Aku yang Lain memang cukup baik, yakni hendak menggambarkan kesan toleransi umat Islam dengan umat beragama lainnya.

Namun, saya menyayangkan adanya adegan di mana seorang kakek (Muslim) melarang mobil ambulans (membawa orang sakit) yang ingin melintas di sebuah acara pengajian, dengan alasan mereka beragama non-Islam.

Kemudian, muncullah seorang polisi yang memberi nasihat kepada kakek itu bahwasahnya aspek kemanusiaan lebih penting ketimbang “apa agamamu.”

Lalu, ada seorang pria (Muslim) yang seiya dan sekata dengan polisi tersebut dan menyangsikan sikap kakek itu.

Kontan, nada bicara kakek itu meninggi dan mengatakan pria (yang sependapat dengan polisi) itu sebagai orang yang “kafir.” Anggapan kakek berjanggut dan berkopiah kemudian dibantah polisi dan pria itu, hingga akhirnya kakek tersebut termenung dan akhirnya menerima ambulans untuk lewat membelah acara pengajian.

Saya menyangsikan adanya adegan ini. Kendati adegan ini dibutuhkan untuk melengkapi rangkaian film, namun bagi saya adegan ini tidak tepat. Sebab, publik atau umat justru terfokus bukan pada ide ceritanya yang menampilkan wajah Islam yang toleran, tetapi pada adegan kakek (Muslim) yang digambarkan sangat arogan itu.

Adegan inilah yang kemudian mendapat tempat dan kesan di masyarakat, sehingga akhirnya menimbulkan kegaduhan baru. Umat Islam belakangan waktu ini sedang mengobati rasa sakit hatinya pasca adanya suatu rangkaian peristiwa yang dianggap mengusik keyakinannya.

Sehingga, saya berpendapat film ini muncul di waktu yang menurut hemat saya tidak tepat waktunya. Selain itu, adegan kakek yang melarang ambulans juga tak menggambarkan realitas umat Islam secara keseluruhan. Sebab, ‎Islam merupakan agama damai yang membawa keselamatan.

Maka dalam konteks adegan tersebut, s‎udah barang tentu hal itu bukan realitas dari nilai keislaman yang hakiki. Tak mungkin umat Islam membiarkan saudaranya tak selamat atau meregang nyawa hanya karena perbedaan keyakinan. Tidak mungkin. Hal tersebut justru bertentangan dengan ajaran Islam sendiri.

Bagi saya, umat Islam di Indonesia sudah memiliki bukti mengamalkan sikap toleran secara proporsional dan otentik kepada umat beragama lainnya. Tak ada keraguan dengan hal itu.

Maka dengan demikian, film ini, khususnya pada adegan kakek itu, justru berpotensi “memukul” nilai-nilai toleransi umat Islam kepada umat beragama lainnya yang selama ini sudah terbangun dengan baik. Selain itu, adegan ini juga berpotensi menstigma khalayak tentang corak Islam Indonesia yang intoleran. Padahal tidak demikian.

Kendati begitu, saya tetap mengapresiasi setinggi-tingginya  karya sineas kita dan Polri karena sudah memberikan penjelasan tentang film itu. Selanjutnya, bila diizinkan, saya berpendapat salah satu adegan di film itu perlu ditinjau kembali agar tak menimbulkan kesalahpahaman dan kedaguhan baru.

Sudah barang tentu umat Islam menyayangi dan mengasihi saudaranya agar tetap selamat tanpa memandang perbedaan agama. Itulah realitas yang riil. Selain itu, saya meminta agar tak ada pihak yang memanaskan keadaan, baik masyarakat, ataupun institusi negara. Sebaliknya, saya yakin umat Islam bisa menahan diri dan bersikap moderat terkait hal ini.

Kita berbaik sangka bahwa maksud dan tujuan dibuatnya film tersebut yakni ingin menggambarkan wajah Islam yang menghargai perbedaan dan dapat mencintai sesamanya. Namun, untuk adegan yang sudah disebut itu, mohon kiranya dapat ditinjau kembali.[***]

Fahreza Rizky
Ketua DPD IMM DKI Jakarta

[rmol]