Home Berita Dukungan Anies-Sandi dan sindiran Ahok-Djarot soal tamasya Al Maidah

Dukungan Anies-Sandi dan sindiran Ahok-Djarot soal tamasya Al Maidah

0
SHARE

Rakyat Jakarta – ¬†Pencoblosan Pilkada DKI Jakarta rencananya bakal ‘dimeriahkan’ agenda sejumlah kelompok yang berencana menggelar tamasya. Bukan sembarang tamasya, tapi bertajuk tamasya Al Maidah. Sejumlah pihak khawatir aksi ini justru mengganggu jalannya proses demokrasi di ibu kota.

Ketua Panitia Tamasya Al Maidah, Ansufri ID Sambo memastikan bakal melaksanakan tamasya Al Maidah yang rencananya berkeliling ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang ada di ibu kota.

“Kami memberi maklumat, Insya Allah tamasya Al Maidah tetap dilaksanakan,” tegasnya di Masjid Al Ittihad, Jalan Tebet Mas Indah I, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (18/4) malam.

Para peserta dari berbagai daerah dipersilakan datang ke masjid-masjid atau musala atau tempat-tempat lainnya yang sudah menyatakan kesediaannya kepada penyelenggara tamasya Al Maidah. Setelah itu, para peserta melakukan ibadah, zikir & doa untuk kemenangan umat Islam di Jakarta dan tegaknya surat Al Maidah 51. Sekitar pukul 07.00 WIB, peserta dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok untuk mendatangi TPS-TPS di sekitar masjid atau musala tempat peserta menginap.

Jika ada larangan dari aparat setempat, peserta diminta tidakmelawan. Termasuk jika ada provokasi dari pihak lain. Jika suasana sudah tidak kondusif, peserta diminta kembali ke masjid atau musala tempat menginap dengan memperbanyak ibadah, zikir dan doa untuk memohon pertolongan Allah untuk memenangkan umat Islam dan tegaknya Surat Al Maidah 51.

Sampai hasil perhitungan suara di TPS selesai, peserta diminta tinggal dan mengambil jarak yang cukup untuk dapat melihat dan mendokumentasikan hal-hal yang terjadi di TPS. Setelah perhitungan selesai peserta diharapkan untuk segera kembali ke tempat atau musala tempat semula, kemudian bersama-sama menuju Masjid Istiqlal. Dari mulai salat Ashar sampai Magrib untuk syukuran kemenangan Umat Islam.

Polisi merespon rencana aksi tamasya Al Maidah ini. Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan telah melarang memobilisasi massa ke TPS. Jika ada massa dari luar Jakarta yang datang, akan dipulangkan.

“Kalau ada mobilisasi massa akan dipulangkan, kalau dia melanggar kita tindak tegas, kan sudah jelas ya mencakup semua, bukan cuman sama si Al Maidah doang, sudah ada saya dan Pangdam yang menjaga tiap TPS siapapun juga yang mencoba mengganggu pemungutan suara akan kita tindak tegas,” kata Iriawan di Ancol, Jakarta Utara, Selasa (18/4).

Soal kabar Tamasya Al Maidah akan berpusat di sejumlah tempat ibadah, Kapolda mempersilakan. Tapi dia menekankan, pihaknya melarang ada mobilisasi massa ke TPS. “Ya enggak masalah kalau mau salat mah silakan, tapi ke TPS tidak boleh,” kata dia.

Lalu, bagaimana tanggapan dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta soal rencana aksi tamasya Al Maidah? Kubu pasangan calon nomor urut tiga,Anies Baswedan dan Sandiaga Uno memandang positif. Sandiaga enggan berspekulasi terkait tamasya Al Maidah. Yang terpenting, kata Sandiaga, tetap menghadirkan suasana pemilihan yang adil, jujur dan demokratis. Sehingga persatuan di Jakarta tetap terjaga. Baginya, apapun itu selama tak melanggar aturan yang ada tak masalah asalkan mempersatukan.

“Apapun yang menjadi kegiatan di bawah, di warga selama masih dalam koridor hukum, tentunya harus kita yakinkan mereka terus membangun persatuan dan kesatuan,” ungkap Sandiaga di Kawasan Monas, Jakarta Pusat, Senin (17/4).

“Kami berkomitmen menghadirkan pemilu yang jujur adil, dan demokratis yang mempersatukan. Pemilu yang sejuk,” kata Sandiaga.

Kubu pasangan nomor urut dua, AhokDjarot menyindir rencana aksi tamasya Al Maidah ke TPS-TPS. Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta nomor urut dua Djarot Saiful Hidayat menanggapi dengan guyonan terkait tamasya Al Maidah yang akan dilakukan sekelompok orang pada pencoblosan Pilkada DKI Jakarta 19 April nanti. Djarot mengatakan sebaiknya tamasya itu ke Tanah Abang atau ke Kalijodo.

“Lebih baik, tamasya itu ya ke Tanah Abang, ke Kalijodo, ke Blok M, ke Mbah Priok, ke Taman Mini. Itu baru tamasya,” tuturnya usai menghadiri kegiatan Jakarta Mengaji di Cipinang, Jakarta Timur, Sabtu, (15/4).

Djarot pun mengakui, bahwa dirinya baru mendengar ada tamasya semacam itu. Menurutnya itu merendahkan. “Kenapa sih tamasya kayak gitu, pakai Al Maidah segala. Maaf ya, dalam tanda kutip, itu merendahkan,” sebutnya.

Djarot mendapat kabar peserta aksi tamasya Al Maidah berasal dari luar Jakarta. Dia mengimbau agar warga luar Jakarta tidak datang ke Ibu Kota melakukan aksi Tamasya Al Maidah di TPS-TPS saat pencoblosan besok. Menurutnya, tanpa harus melakukan aksi tersebut pun, Pilkada Jakarta akan berjalan damai.

Djarot menegaskan, urusan keamanan Jakarta serahkan saja kepada warga Jakarta dan aparat keamanan sehingga orang luar Jakarta tidak perlu repot-repot mengurusinya. Djarot kembali melempar guyonan.

“Jadi enggak usah capek-capek datang ke Jakarta, kalau mau tamasya yang baik itu tamasya ke tempat-tempat yang menyenangkan, enggak usah tamasya ke TPS, karena TPS tidak ada pertunjukan, tidak ada pemandangan seperti di pantai, di gunung ya,” kata Djarot, di terminal Pulogebang, Jakarta Timur, Selasa (18/4).

Djarot mengaku sudah mendapat beberapa informasi terkait kedatangan massa dari luar Jakarta meskipun KPU dan Bawaslu sudah mengeluarkan maklumat untuk melarang kedatangan mereka. Djarot berharap, pendukung kedua kubu pasangan calon bisa berlaku dewasa dalam pilkada putaran kedua ini. Ia juga meminta agar seluruh warga Jakarta mendoakan hasil yang terbaik.

“Sekaligus mohon doanya pada seluruh warga terutama yang di Jakarta dan di luar Jakarta supaya kita semua mampu mewujudkan demokrasi yang berkualitas demokrasi yang jujur, adil dan benar mampu melahirkan siapapun yang diilhami oleh warga Jakarta itulah yang terbaik yang dikehendaki oleh warga Jakarta, itu aja,” ucap Djarot.

Calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut dua Basuki Tjahaja Purnama tidak mau ambil pusing soal Tamasya Al Maidah. Basuki atau akrab disapa Ahok mengatakan, harus ada kesepakatan antara kedua pasangan calon mengenai saksi. Karena nantinya para saksi dapat melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan berkas calon pemilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

“Enggak apa-apa (ada aplikasi Tamasya Al-Maidah). Makanya kita harus sepakat sekarang antar-pasangan calon dan KPU, bahwa ketika orang membawa C6 (formulir pemberitahuan) harus menunjukkan KTP,” katanya di Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (20/3).

Mantan Bupati Belitung Timur itu menginginkan seluruh saksi dari masing-masing pasangan calon yang ditugaskan di setiap tempat pemungutan suara untuk memeriksa C6 yang dibawa oleh pemilih apakah sudah sesuai dengan identitas di KTP. Jika hal tersebut tak dilakukan, Ahok khawatir saksi-saksi yang katanya akan didatangkan dari luar daerah akan melakukan kecurangan.

“Kita tidak mau juga kalau curiga tamasya-tamasya ke Jakarta, C6 kalau oknumnya main bisa memberikan C6 ke orang lain. Kita juga bisa menduga seperti itu, makanya mari kita sama-sama jaga bersama,” tutupnya.