Home Berita Duduki DPR Lewat Gorong-gorong “Anda percaya?”

Duduki DPR Lewat Gorong-gorong “Anda percaya?”

0
SHARE

Rakyat Jakarta –¬†Polisi terus berusaha meyakinkan publik bahwa kasus makar yang sedang diarahkan ke Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al-Khaththath bukan tindakan serampangan. Yang terbaru, polisi mendapatkan informasi para pelaku makar hanya butuh duit 3 miliar rupiah untuk menjatuhkan pemerintah. Informasi lain, para pelaku makar berencana menguasai gedung DPR dengan masuk lewat gorong-gorong

 

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono menyatakan, nominal uang kebutuhan makar itu terungkap dari keterangan para tersangka. Rencananya, jika uang itu didapat akan digunakan untuk mengakomodasi penggulingan pemerintahan.

“Ya sedang kita dalami,” ujar Argo, di Mapolda Metro Jaya, Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, kemarin.

Argo menjelaskan, kebutuhan uang Rp 3 miliar itu terlontar saat Al-Khaththath bersama empat tersangka makar lainnya melakukan rapat di dua tempat berbeda, sebelum aksi 313. Rapat dilakukan di kawasan Kalibata dan Menteng, Jakarta.

Nah, saat rapat tersebut Al-Khaththath bersama Zainudin Arsyad aktivis Gerakan Mahasisa Pelajar Bela Bangsa dan Rakyat (GMPBBR), Irwansyah Wakil Koordinator lapangan aksi 313, Dikho Nugraha dan Andre aktivis Forum Syuhada Indonesia (FSI), diduga melakukan rapat upaya makar.

Rencananya, makar akan dilakukan seusai Pilgub DKI Jakarta, yang jatuh pada 19 April 2017. Puncak makar, akan dilakukan dengan aksi pendudukan paksa gedung DPR. Bahkan, disebutkan sudah ada rencana untuk menerobos barikade keamanan baik dengan truk hingga masuk ke gorong-gorong.

“Ada juga caranya untuk menabrakan kendaraan truk di pagar belakang DPR. Ada juga tujuh pintu dari hasil rapat itu, gorong-gorong, jalan setapak,” ujar Argo. Diyakini para tersangka makar, dengan masuk ke dalam gedung DPR, maka massa akan sulit untuk didorong ke luar.

Cara itu, kata Argo, dianggap para tersangka efektif untuk menggulingkan pemerintahan, sama halnya saat mahasiswa menduduki gedung DPR selama berhari-hari pada peristiwa 1998. Nah, uang Rp 3 miliar itu, digunakan untuk kegiatan unjuk rasa, seperti menyewa bus dan logistik para pengunjuk rasa.

Diungkap Argo, aksi 313 merupakan rangkaian demo untuk menggulingkan pemerintahan. Aksi bela Islam 31 Maret 2017 atau 313 hanyalah pemanasan sebelum aksi yang lebih besar akan digelar. Ya, setelah Pilgub DKI.

Sekalipun begitu, uang sebesar Rp 3 miliar itu masih belum ada. Polisi, baru menyita barang bukti uang tunai senilai Rp 18 juta dalam penangkapan Al-Khaththath cs, menjelang aksi 313. Namun, polisi tetap akan menelusuri uang tersebut, termasuk memburu para donatur makar.

“Kalau kaitkan barang bukti yang kami sita, diduga uang itu berkaitan dengan kegiatan 313 kemarin,” pungkasnya.

Pengamat politik dari Direktur Sinergi Masyarakat Untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahuddin mengaku sulit mengamini jika rencana makar dimodali dengan uang hanya Rp 3 miliar. Baginya, uang segitu hanya cukup untuk beberapa kali demonstrasi. “Murah banget ya, ngga cukup itu untuk makar,” ujar Said.

Menurutnya, dengan beragam temuan polisi mulai dari dana hingga rencana menerobos DPR, baginya mustahil untuk dilakukan. Apalagi, hingga terjadi penggulingan kekuasaan seperti 1998. Mantan aktivis reformasi itu menyampaikan, aksi pendudukan DPR untuk makar itu tidak tepat.

“DPR itu kan legislatif, bukan eksekutif. MPR juga tidak sekuat dahulu,” katanya.

Selain itu, Said juga menyampaikan pemerintah terlalu berlebihan menanggapi Al-Khaththath Cs dengan rencana-rencananya.

Menurutnya, alih-alih menangkap dan memenjarakan orang maupun kelompok yang sebetulnya tidak berbahaya besar, justru bisa menjadi bom waktu.

“Harusnya Jokowi pakai cara lama dia semasa Wali Kota Solo, ajak makan dan ketemu kelompok pembencinya. Kok, cara soft begitu sekarang nggak dilakukan,” tanyanya. **