Home Berita Di Amerika Obama Sekali Pidato Dibayar Rp 5 Miliar, Kalau Di Sini...

Di Amerika Obama Sekali Pidato Dibayar Rp 5 Miliar, Kalau Di Sini Berapa..????????

0
SHARE

Rakyat Jakarta – Kemarin siang, Obama meninggalkan Jakarta dan langsung terbang ke Seoul, Korea Selatan. Dia bakal menjadi pembicara di acara Asian Conference Leadership. Meski sudah tak lagi di Jakarta, pujian netizen terhadap eks Presiden Amerika Serikat ini masih terus mengalir. Meski banyak yang muji, ada satu dua yang usil. Penasaran dan ingin tahu berapa ongkos mendatangkan Obama ke Hall Kota Kasablanca, Sabtu lalu. Apakah gratis atau sama dengan honor berbicara di hadapan para eksekutif Wall Street yaitu 400 ribu dolar AS atau senilai Rp 5 miliar?

Sabtu kemarin, suami Michelle Obama ini hadir di Hall Kota Kasablanca untuk membuka sekaligus menjadi pembicara dalam Kongres Indonesia Diaspora Network (IDN) Global bertajuk “Bersinergi Membangun Negeri”. Di acara ini Obama berbicara kurang lebih satu jam. Panitia menyebut, peserta yang hadir di acara pertemuan para perantau milenial ini sekitar 4 ribu orang. Sebagian peserta khusus diundang oleh panitia, dan sebagian lagi diundang setelah melakukan pendaftaran online.

Tak diketahui pasti berapa ongkos yang dikeluarkan untuk mendatangkan Obama ke acara tersebut. Panitia tidak mengungkapkan secara terbuka. Hanya saja, ada dua perusahaan yang mensponsori acara ini yaitu Grup Emtek dan BBM Indonesia. Dua perusahaa milik miliarder Eddy Sariaatmadja. Malam sebelum berpidato, Obama dan keluarga pun dijamu makan malam di kediaman Eddy di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Tiada kabar tentang honor Obama ini memantik rasa penasaran sebagian netizen. “Pidato di Wall Street, Obama dibayar 400 ribu USD. Kira-kira di Kongres Diaspora dibayar berapa ya,” cuit @firmanbaso. Kira-kira begitu gambaran rasa penasaran tweeps yang muncul.

Rakyat Merdeka,
 tadi malam mencoba mengkonfirmasi soal ini. Fofo Sariaatmadja, adik dari Eddy Sariaatmadja yang dihubungi tidak bisa berkomentar. “Saya nggak bisa berkomentar. Kebetulan ini juga sudah malam dan saya mau tidur sedang tak enak badan,” katanya. Begitu juga dengan Ketua Dewan Pengawas Indonesia Diaspora Network Global Dino Patti Djalal, hingga berita ini diturunkan tak merespons whatsapp yang dikirimkan.

Di Amerika, besaran honor pidato Obama ini memang sempat bikin heboh. Bulan lalu, media-media di sana mengulas bahwa honor pidato Obama senilai 400 ribu dolar AS atau setara Rp 5,3 miliar. Honor itu tercium media setelah Obama menerima undangan untuk berpidato di sebuah pertemuan para eksekutif Wall Street, September mendatang. Jelas saja bikin heboh lantaran honor pidato lebih besar dari gaji pensiunan Obama selama satu tahun. Honor Obama ini pun dua kali lipat lebih besar yang dipatok Hillary Clinton jika diundang menjadi pembicara.

Kritik pun berdatangan. Terutama dari lawan politik Obama, antara lain Bernie Sanders. Senator asal Vermont ini menyayangkan keputusan Obama menerima undangan itu karena menunjukkan kekuatan Wall Street dan pengaruh uang yang sangat besar dalam proses politik. “Presiden Obama kini memang menjadi warga biasa yang bebas melakukan apapun, tetapi tetap saja ini sangat disayangkan,” ucap Sanders. Kritikan lain lebih pedas bahwa Obama dianggap sama saja. Seorang kapitalis tulen.

Penasihat senior Obama, Eric Schultz, pernah berkomentar menanggapi kehebohan honor Obama tersebut. Dia bilang, Obama akan tetap mempertahankan keputusannya untuk menjadi pembicara.

“Dari beberapa pidato itu Obama akan mendapatkan uang, sebagian lainnya dia lakukan secara cuma-cuma,” ujar Schultz. “Terlepas dari lokasi dan penyelenggara acara, Presiden Obama tetap akan memegang nilai-nilai yang dipegangnya selama ini,” Shcultz menegaskan.

Setelah tak berkantor di Gedung Putih, Obama memang memutuskan untuk jadi pembicara. Tak lama setelah puas berlibur bersama keluarga, Obama menunjuk sebuah agensi prestisius yang salah satu kliennya adalah eks Presiden AS Bill Clinton. Agensi itu bernama Harry Walker Agency. Agensi ini yang akan mewakili Obama dan istrinya jika mereka diminta tampil sebagai juru bicara. Agensi ini juga yang mewakili Hillary Clinton untuk semua kegiatannya sebagai pembicara setelah tak menjadi menteri luar negeri pada 2013.

Namun, gara-gara honor pidato yang besar itu pula, Kongres Amerika Serikat mengusulkan kembali untuk memangkas uang pensiun Obama. Hanya saja, saat rencana ini akan digulirkan tahun lalu, Obama melakukan veto dengan alasan jika undang-undang itu disahkan maka para mantan presiden harus memberhentikan para staf pendukung mereka.

Saat ini badan layanan umum harus menyediakan ruang kantor yang layak dengan peralatan dan furnitur yang memadai bagi para mantan presiden itu. Biaya operasional kantor dan gaji staf saat ini memang cukup mahal. Harian USA Today mengabarkan, mantan Presiden Jimmy Carter harus membiayai staf dan kantor hingga 430.000 dolar AS setahun. Sementara mantan Presiden George W Bush harus merogoh koceknya hingga 1,1 juta dolar setahun untuk keperluan yang sama.  **

[rmol]