Home Berita Bantah Diancam FPI, Ini Kronologi “Sebenarnya” Padamnya Listrik Rumah Nenek Sidup

Bantah Diancam FPI, Ini Kronologi “Sebenarnya” Padamnya Listrik Rumah Nenek Sidup

0
SHARE

Rakyat Jakarta – Dugaan ancaman yang diterima Sidup (80 tahun), menjadi perhatian di dunia maya. Disebut-sebut, nenek Sidup mendapat ancaman dari anggota Front Pembela Islam (FPI) karena mendukung Ahok, bahkan listrki dan dan saluran air di rumah nenek Sidup dipadamkan dan dihentikan.

Namun, kabar tersebut akhirnya dibantah oleh nenek Sidup setelah pihak FPI bersama Ketua RT, RW dan Lurah mendatangi langsung kediamannya di Jalan Kemuning RT 05, RW 07, Pejaten Timur, Jakarta Selatan. Syarifuddin, tetangga Sidup, juga membantah adanya ancaman yang diterima Sidup. Bahkan Syarifuddin mengungkapkan rumah yang kini ditempati nenek Sidup adalah bekas warung milik keluarganya.

Ia juga mengungkapkan, listrik dan air yang dialirkan ke rumah Sidup keseluruhan berasal dari rumah orang tua Syarifuddin yang merupakan tetangga terdekat Sidup. Syarifuddin menambahkan, berita yang mengabarkan adanya ancaman dengan pemadaman lampu yang dialami Sidup, keseluruhannya adalah kesalahpahaman dan tidak benar.

“Malam itu, seluruh keluarga pergi jadi tidak ada orang di rumah. Karena Bu Sidup listriknya nyambung ke rumah jadi otomatis mati, karena dirumah listriknya dimatiin,” jelas Syarifuddin, Jumat (7/4).

Sebelumnya Sidup ramai diperbincangkan karena sebelumnya dikabarkan sempat mendapatkan tindak diskriminasi dengan cara pemadaman lampu dan dihentikannya saluran air. Hal ini sepenuhnya telah diklarifikasi oleh Sidup dan aparatur pemerintah seperti RT, RW dan Lurah, termasuk Front Pembela Islam (FPI) yang sebelumnya sempat disebut dalam berita yang diduga mengada-ngada itu.

Enggak ada istilah pencabutan listrik dan air karena listrik dan air dialirkan dari rumah saya. Ibu Sidup juga udah bikin surat klarifikasi di depan lurah,” tegasnya.

Sidup, menurut Syarifuddin awalnya merupakan warga Rw 05, namun setelah berpisah dengan suaminya, Sidup memutuskan untuk menjual rumahnya. “Setelah rumahnya dijual, dia (Sidup) tidurnya di mana-mana. Makanya RT sama RW enggak tega, akhirnya bu Sidup disuruh tinggal di situ,” ujar dia.

Aparatur, menurut Syarifuddin sengaja menempatkan Sidup di rumah bekas warung di sebelah pos karang taruna, agar warga dapat turut menjaga Sidup, melihat kondisinya sebagai janda yang tinggal sendiri, meskipun terkadang anak terakhirnya, Tian (9) dan tiga cucunya kerap kali menginap di rumah Sidup.