Home Berita Bahaya Ngawurnya Faham Pluralisme Agama Ahmad Syafii Maarif

Bahaya Ngawurnya Faham Pluralisme Agama Ahmad Syafii Maarif

0
SHARE

Ahmad SyafiI Maarif mantan ketua Muhammadiyah menulis di rubrik resonansi di HarianRepublika berjudul Hamka tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah. (Republika, Selasa 21 November 2006/ 29 Syawal 1427H, halaman 12). Isinya untuk mendukung faham pluralisme agama, menyamakan semua agama, masuk surga semua. Maka kelanjutan dari tulisannya itu lebih menegaskan lagi, “Mereka rakus surga dan melakukan kekerasan teologis, joke saya, mereka akan masuk sendiri dan kelelahan nyapu surga yang luasnya tak terbatas.”

Ucapan pedas mantan ketua umum Muhammadiyah itu ditujukan kepada kaum Muslimin yang mengikuti aqidah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa yang masuk surga itu hanya orang Muslim.

Tulisan Syafii Maarif itu menjadikan Hamka sebagai tameng. Padahal Mamka dalam Tafsirnya, Al-Azhar juz 6 halaman 325, Hamka menegaskan: “Yang iman itu yang terbuka hatinya menerima wahyu yang dibawa oleh sekalian Nabi, sampai kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Misalnya sampai Hamka pun berfaham model Syafii Maarif, –dan ternyata tidak–, tetap umat Islam harus merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan kenyataannya, dalam Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kalau seandainya Nabi Musa as hidup berjumpa dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak ada kelonggaran kecuali ikut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang ikut Nabi Musa ‘alaihis salam, dan meninggalkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sesat.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” لَوْ نَزَلَ مُوسَى فَاتَّبَعْتُمُوهُ وَتَرَكْتُمُونِي لَضَلَلْتُمْ، أَنَا حَظُّكُمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَأَنْتُمْ حَظِّي مِنَ الْأُمَمِ “

Seandainya Musa turun lalu kamu sekalian mengikutinya dan meningalkanku pasti kamu sekalian sesat. Saya bagian kalian dari nabi-nabi, dan kamu sekalian bagianku dari umat-umat. (HR Al-Baihaqi dalam Sy’abul Iman, berderajat hasan menurut Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ 5308/ dorar.net)

Terus dari mana Pak Ahmad Syafii Maarif mau berkilah bila berhadapan dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kelak di akherat? Adakan mandat kepada Pak Ahmad Syafii Maarif untuk memasukkan surga orang-orang sekarang yang tak percaya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tak mengikuti Islam yang beliau bawa? Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sejelas itu dalam menggariskan surga dan neraka. Bagaimana mau menegakkan kepala di akherat kelak, ketika ingat di dunia telah moyoki Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang rakus surga dan akan kelelahan menyapu surga. Demikian pula umatnya yang mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik, telah dipoyoki seperti itu. Lantas, apakah di akherat kelak akan dibagi surga oleh orang kafir yang telah Pak Ahmad Syafii Maarif iming-imingi masuk surga pula sebagaimana orang Muslim itu? Bukankah justru orang kafir akan menagih kepada Pak Syafii Maarif? Lantas dari mana mau membagi surga kepada mereka? Apakah ada mandat dari ayat maupun hadits sebagai counter ayat 6 surat Al-Bayyinah?

Tidak ada. Yang ada justru ayat-ayat yang menegaskan bahwa orang kafir akan dimasukkan ke dalam neraka selama-lamanya. Juga tidak mungkin masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum. Ayat-ayatnya jelas dan tegas, sebagai berikut:

{ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ} [البينة: 6]

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS Al-bayyinah: 6).

{إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ} [الأعراف: 40]

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lobang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. (QS Al-A’raaf/ 7: 40).

Dalil-dalil menjawab ahli tasykik

Untuk menjawab golongan tasykik (menyebarkan keragu-raguan) itu, perlu disimak ayat-ayat, hadits, sirah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang riwayatnya otentik.

Kalau semua agama itu sama, sedang mereka yang beragama Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in itu cukup hanya mengamalkan agamanya, dan tidak usah mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berarti membatalkan berlakunya sebagian ayat Allah dalam Al-Qur’an. Di antaranya ayat:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk seluruh manusia.”(As-Saba’: 28).

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

Katakanlah (hai Muhammad): Hai manusia! Sesungguhnya aku utusan Allah kepada kamu semua.”(Al-A’raaf: 158).

Apakah mungkin ayat itu dianggap tidak berlaku? Dan kalau tidak meyakini ayat dari Al-Qur’an, maka hukumnya adalah ingkar terhadap Islam itu sendiri. Kemudian masih perlu pula disimak hadits-hadits.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَكَانَ النَّبِىُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً ، وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

“Wa kaanan nabiyyu yub’atsu ilaa qoumihi khooshshotan wa bu’itstu ilan naasi ‘aamatan.”

Dahulu Nabi diutus khusus kepada kaumnya sedangkan aku (Muhammad) diutus untuk seluruh manusia.” (Diriwayatkan Al-Bukhari 1/ 86, dan Muslim II/ 63, 64).

Setelah nyata betapa bertabrakannya antara lontaran Syafii Maarif dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mumpung masih ada kesempatan, hendaklah dia bertaubat dengan mencabut segala pendapatnya yang ngawur dan merusak Islam itu.

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)