Home Berita Penjual Nasi Penyumbang GNPF-MUI Diperiksa Polisi, Ditanya Hubungan dengan Bachtiar Nasir

[ANEH DAN MENGADA ADA] Penjual Nasi Penyumbang GNPF-MUI Diperiksa Polisi, Ditanya Hubungan dengan Bachtiar Nasir

0
SHARE

Penyidik Bareskrim Polri hari ini memeriksa salah seorang penyumbang Aksi Bela Islam, Otto Ghozali, sebagai tindak lanjut pemeriksaan Yayasan Justice For All (Yayasan Keadilan Untuk Semua) yang dikaitkan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Hari Senin (20/02/2017), Otto (47), diperiksa Bareskrim Polri terkait kegiatannya menyumbang dan mengumpulkan dana untuk Aksi Bela Islam I.

“Saya ditanya 15 pertanyaan, biodata,  ayah, ibu, saudara, istri, anak, pekerjaan, soal GNPF,  untuk apa donasi, kepada siapa donasi, masalah pemanfaatan dana. Ikhlas apa tidak,” ujar pengusaha nasi timbel ayam bakar ini Senin siang.

Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) ini mengakui saat Aksi Bela Islam I, dirinya mengumpulkan sumbangan dari teman-temannya. Uang yang terkumpul tidak mencapai 10 juta. Selanjutnya, uang donasi itu disumbangkan pada Aksi Bela Islam, yang selanjutnya dikelola Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF)-MUI.

Otto juga sempat ditanya-tanya, soal keterkaitan dengan Ustad Bachtiar Nasir, Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI).

“Saya tahu, karena sering lihat di TV, tapi tidak kenal,” jawab alumni IPB tahun 1993 ini. Baginya, tidak masalah menyumbang meski tidak mengenal. Toh, semua dana digunakan untuk kegiatan Islam.

Selain Otto, sebelum ini, Penyidik Bareskrim Polri juga telah memeriksa Ketua GNPF-MUI KH Bachtiar Nasir sebagai saksi juga 5 orang lainnya. Dua orang di antaranya merupakan pegawai bank dan 3 orang pengurus  Yayasan Keadilan Untuk Semua.

KH Bachtiar Nasir merupakan penanggungjawab Aksi Damai Bela Islam I dan II pada 4 November 2016 dan 2 Desember 2016. Sementara Yayasan Justice For All (Yayasan Keadilan Untuk Semua), adalah lembaga yang rekeningnya dipinjam pihak GNPF-MUI untuk menampung dana umat.  Dimana penggunaan ini atas kesepakatan kedua-belah pihak, dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat.

Sebagaimana halnya Otto, dirinya bersama-sama teman alumni IPB yang memberikan donasi ke GNPF-MUI tidak masalah uangnya disalurkan kemana saja, karena dirinya yakin GNPF-MUI amanah dan dirinya juga ikhlas.

“Saya dengan ikhlas menyumbang, saya percayakan uangnya ke GNPF-MUI pemanfaatannya,” ujarnya menutup pembicaraan.

Hari Jumat lalu, bertempat di 1 Park Residence, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, berkumpul aliansi muhsinin, (kelompok penyumbang kebajikan),  tergabung dalam Perhimpunan Donatur GNPF-MUI. Mereka umumnya adalah kaum hawa yang juga saat Aksi Bela Islam I dan II ikut menyumbang kegiatan  GNPF-MUI.

Perkumpulkan kelompok majelis taklim ini muncul, berkaitan dengan tudingan aparat yang dinilai terlalu mengada-ada, mengaitkan Yayasan Keadilan Untuk Semua dan GNPF-MUI terlibat pencucian uang.

“Saya rasa, polisi  mengada-ngada, tuduhan TPPU ini rasanya berlebihan karena ibu-ibu menyumbang berdasarkan dari infaq, sedekah zakat dengan penuh keikhlasan,  dan in syaa Allah dari sumber yang halal,” ujar Rita, seorang aktivis Islam.

“Kita ingin membela bahwa jangan Islam diperlakukan seperti itu. Sangat terlalu banyak memfitnah ulama, sementara kita membantu niatnya tulus,” keluh Dyah.*