Home Berita Ahli UGM: Kasus Ahok Harus Dikaji Lagi???

Ahli UGM: Kasus Ahok Harus Dikaji Lagi???

0
SHARE

Ahli hukum pidana dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Edward Omar Sharif Hiariej menegaskan tindakan yang jelas terbukti telah menodai agama adalah ketika seseorang merobek atau menginjak-injak kitab suci.

Sementara Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang didakwa telah melakukan penodaan agama karena pernyataannya, menurut Eddy, begitu guru besar UGM ini biasa disapa, masih perlu dibuktikan lebih lanjut.

“Kalau berkaitan dengan pasal 156 A KUHP, kalau dia sobek atau injak Al-Quran, dia menghina. Tapi karena ini pernyataan, harus dilihat secara holistik,” kata Eddy saat sidang di auditorium Kementan, Jakarta Selatan, Senin (14/3).

Dia menyarankan, pengadilan menghadirkan ahli gesture atau bahasa, serta ahli agama dalam persidangan tersebut. Menurut dia, kasus ini perlu dilihat secara konstektual.

“Jika ingin lebih dalam lagi apakah orang ini punya niat dalam menyatakan hal tersebut juga perlu dihadirkan ahli fisiologi untuk membaca gerak tubuh,”tegas Eddy

Menurut dia, pada Pasal 156 dan 156a KUHP mensyaratkan harus ada niat untuk memusuhi atau menghina agama.

Pasal 156 KUHP menyebutkan, barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Edward menjelaskan, istilah golongan dalam pasal itu dan pasal berikutnya berarti tiap-tiap bagian dari rakyat Indonesia yang berbeda dengan suatu atau beberapa bagian lainnya karena ras, negeri asal, agama, tempat asal, keturunan, kebangsaan atau kedudukan menurut hukum tata negara.

Berikutnya, menurut Pasal 156a KUHP, pidana penjara selama-lamanya lima tahun dikenakan kepada siapa saja yang dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.

Edward mengatakan, faktor niat bersifat subjektif sedangkan faktor kesengajaan bersifat objektif. Sehingga, tidak mudah untuk membuktikan faktor niat yang bersifat subjektif tersebut. Namun, niat tersebut bisa digali saat agenda persidangan pemeriksaan terdakwa.

“Kalau bicara niat, yang tahu hanya Tuhan dan pelakunya. Kita harus lihat keadaan sehari-hari orang itu hingga sampai pada justifikasi orang tersebut punya niat untuk menghina agama,” demikian Eddy. [sam]